RSS

Cerpen:Lara Hati Yang Sunyi ~bag.2~

20 Nov

Pagi ini matahari sedikit malas menampakkan dirinya, sisa – sisa tetesan air hujan tadi malam masih kelihatan di rerumputan. “Aaahh” hanya itu kata yang mampu ku keluarkan bersamaan hembusan nafasku. Hari ini aku memulai lembaran baru dalam hidup ku. Kini aku melangkahkan kaki tanpa ada kamu disampingku, menemani perjalanan sisa – sisa hidupku. “Aaaaaahhhh” sekali ku hela nafas dengan panjang.

Sanggupkah aku menjalani ini, timbul secercah keraguan di hatiku. Betapa gamangnya diriku kini seakan ku melangkah di jembatan bambu yang diikat dengan tali jerami. “ Pagi mbak Asti”, mang Diman menyapaku dengan senyum cerianya. Senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya sejak ku bertemu dengan dia. Seakan hidupnya penuh dengan rasa syukur pada Tuhan. Begitu ringannya mang Diman melangkahkan kaki sambil memikul hasil kebunnya yang akan dibawa ke pasar pagi ini. “ Pagi mang Diman, mau ke pasar mang”, balasku dengan senyum ku paksakan. “Iya mbak, ini mau jual hasil kebun yang tidak seberapa”, jawab mang Diman dengan rendah hati. “ Mbak Asti mau nitip sesuatu, biar nanti saya belikan”,tawar mang Dimang penuh ikhlas. “Makasih mang, tapi hari ini saya ga ada niat mau beli sesuatu. Lain kali aja ya mang”. “Kalau begitu saya jalan dulu ya mbak takut kesiangan”, mang Diman pamit sambil jalan tergesa-gesa sehingga keranjang yang dipikulnya meliuk-liuk seperti perawan menari. “Ya mang, semoga laris ya”. “Amin Mbak”, jawab mang Diman pendek.

Andaikan hidupku bisa secerah senyum mang diman pagi hari ini, gumanku dalam hati sambil kupandangi punggung mang Dimang yang hampir hilang ditikungan. Sekarang aku benar – benar merasakan sepi yang teramat sangat, keinginan untuk selalu bersamanya pupuslah sudah. Semua ini karena kelalai dan kesalahanku. Kubiarkan ego menuntun langkahku. Kenapa aku begitu naïf sangat naïf sekali. Apakah ini sudah ditakdirkan ? dan takdir itu harus ku bayar dengan mahal, sehingga aku harus kehilanganmu. Engkau begitu bijak walupun umurmu masih muda.

Dengan penuh filosofis kau nasehati aku, dengan kelembutan kau tolak aku. Engkau bagaikan pohon sutra yang bertahtah anggun di atas gunung merapi. Adakah aku akan menemukan penggantimu. Engkau akan tersimpan di dalam memori hidupku, kan tetap disana menemani aku sampai ajal datang menjemputku. Kan ku jadikan kenangan bersamamu sebuah pelita yang akan menuntunku di dalam bersikap, bicara dan memandang hidup.

Perlahan aku beranjak dari jendela. Kuraih handuk dengan sedikit malas. Pagi ini terasa begitu dingin seperti hatiku yang hampir membeku karena lara. “ Mbak Asti, Mbak Asti, Mbak… “, teriak mbok Samin di depan pintu kamar ku “ Ya mbok ada apa kenapa teriak – teriak seperti itu ?”, sahut ku dari dalam Dengan perlahan ku buka pintu kamarku, setelah mandi rasanya badanku agak enakan. “ Anu mbak, itu anu, anu itu…mbak, jawab mbok Samin gagap. Mbok Samin orangnya suka latah dan pelupa maklum sudah tua. Umurnya sudah hampir kepala lima. Kadang aku terhibur dengan latah dan gagapnya mbok Samin tapi ga jarang juga aku dibuat ga sabaran dengan latah dan gagapnya mbok Samin. “ Ada apa mbok , apanya yang anu, anunya siapa, besar apa kecil, panjang apa pendek, keras apa lunak “ sahutku sambil menggoda mbok Samin.

Entah kenapa pagi ini aku sangat ingin menggoda mbok Samin untuk menghilangkan kesedihanku yang teramat pedih. Dengan setengah binggung mbok Samin menatapku dengan dahinya yang berkerut menjadi tujuh lapis. Melihat sikap mbok Samin yang kebinggung itu aku menjadi geli. Sambil tertawa ku tinggalkan mbok samin, ku pergi keteras depan untuk menghirup udara pagi biar pikiranku agak tenang setelah semalaman aku menangis menyesali diri. Kenapa rasa itu datang, rasa yang tidak boleh hadir dalam hati ini. Rasa yang terlarang antara aku dan dia. Rasa yang tidak pantas, why dan why. Pertanyaan itu yang selalu berkecamuk di pikiranku, sampai saat ini ku tidak menemukan jawabannya

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 November 2009 in Cerpen

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: