RSS

Cerpen:Lara Hati Yang Sunyi ~bag.5~

20 Des

Hari ini aku sendiri di rumah, karena pagi- pagi sekali mbok Samin pergi mengunjungi saudaranya yang sakit. Kupandangi bunga mawar yang mulai bermekaran di teras. Terasa hati ini begitu sunyi dan sepi. Tiada tempat untuk bersandar dikala bathin ini lelah oleh duka. Tiada pangkuan untukku menumpahkan air mata penderitaan. Disini aku sendiri dalam balutan lara dan duka hati. Mencoba bertahan mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak ku mengerti.

“Pagi nak Asti”,

“Pagi juga bu Winda”, dengan kaget ku jawab sapaan bu Winda.

“Pagi-pagi ko dah melamun nak Asti, lagi mikirin apa?”.

“Aahh ibu, ga lagi mikirin apa-apa. Ini lagi melihat bunga mawar yang mulai merekah dari kuncupnya”.

“Bunganya indah ya nak Asti, seindah senyuman nak Asti pagi ini”, puji bu Winda.

“Ibu bisa saja, tapi terima kasih ya bu atas pujiannya. Semoga saja pujian ibu tidak membuat saya sombong dan lupa diri”.

“ Nak Asti selalu merendah”.

“Bu Winda mau kemana pagi-pagi begini?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Ini mau ketempatnya bu Said, beliau kemaren pesan telur ayam kampung”, jawab bu Winda sambil mengangkat keranjang kecil berisi telur yang dijinjingnya.

“ooo…. Sekarang ayamnya bu Winda pada bertelur ya”, tanyaku kembali.

“Alhamdulillah  ayam-ayam pada bertelur, jadi bisa nambah-nambah uang belanja”.

“Kalau gitu saya juga pesan boleh ga bu?”.

“Tentu boleh sekali. Nak Asti mau pesan berapa butir?”.

“Ga banyak ko bu cuma 10 butir saja”.

“Ya… tapi nanti sore baru bisa diantar sama Sani ketempatnya nak Asti ga apa-apakan?”.

“ Ga apa-apa ko bu, kebetulan hari ini saya di rumah seharian”.

“Kalau begitu ibu pamit dulu, ga enak nanti bu Said menunggu terlalu lama. Karena telur-telur ini mau dibawa ke rumah orang tua beliau”.

“Salam buat bu Said ya bu”.

“Isya Allah ibu sampaikan salam dari nak Asti. Mari nak Asti”.

“Mari bu”.

“Assalammualaikum…”.

“Wa alaikumsalam”.

Ku langkahkan kaki menuju ruang tidur. Ku tarik kursi besi warna hitam yang ada di depan komputer. Saat ini aku ingin membuka FB ku yang sudah satu minggu tidak ku kunjungi. Karena banyaknya pekerjaan dikantor yang menyita waktu ku.

“Bunga mawarnya bermekaran dengan indah dan cantik dipagi ini ya non”. Itu sapamu, orang misterius. Saya sungguh-sungguh bingung bagaimana kamu tahu semua yang ada pada ku.

“Ya … mawar adalah bunga kesukaan ku”. jawabku dengan kebingungan.

“Saya tahu mawar adalah bunga kesukaan mu. Kamu ingin seperti bunga mawarkan?”, darah di dalam tubuhku berdesir, aku bagaikan disengat listrik. Bagaimana mungkin dia juga tahu hal yang sangat pribadi tentang bunga mawar dimataku. “Saya ingin melihat wajah kamu juga cantik dan indah seperti bunga mawar yang merekah di pagi ini. Wajah yang selalu dihiasi senyuman  tulus disuatu saat nanti. Senyum tanpa beban di hati.”.

“Dari kemaren-maren aku juga tersenyum”. Jawab ku sengit.

“ Ya, tapi senyum mu sekarang hanya senyum sebagai topeng untuk menutupi lara hati mu yang sunyi dari orang-orang disekitarmu.Tapi aku bisa melihat dibalik senyum mu itu,  wajah mu muram  diselubungi oleh kabut lara hati dan duka non. Saya janji akan menghalau semua kabut yang menutupi wajah ayu mu itu”. Kembali ku terhempas dengan kata-kata yang kamu tulis.

“siapakah kamu sebenarnya. Kenapa kamu begitu banyak tahu tentangku?”, tanyaku dengan putus asa.

“ Non … ga penting kamu tahu siapa aku, yang harus kamu ketahui adalah aku akan selalu membantu kamu keluar dari kedukaan hidup. Aku akan mengembalikan lagi wajah ceria mu dan senyuman mu yang membuat teduh hati orang yang melihat”.

“ Usaha mu itu akan sia-sia. Hatiku ini sudah terlanjur pedih, luka ,sedih dan hampa karena derita yang tidak berkesudahan dalam hidupku “. Jawabku dengan menahan air mata yang hampir mengalir.

“Kamu jangan berputus asa non, aku janji akan menghilangkan semua deritamu itu?”.

“Bagaimana bisa? Aku tidak kenal kamu. Dan disaat aku butuh kamu bagaimana aku mencarimu?”, tanya ku penuh ketidak mengertian.

“Kamu tidak harus mencariku disaat kamu butuh aku. Aku akan selalu ada tanpa kamu minta”.

“AAhhh…”jawab ku sambil menghembuskan nafas.

“Sekarang cobalah untuk menangis sesaat. Aku tahu kamu dari tadi menahan air mata kepedihan. Menangis itu akan mampu melunakkan hati yang keras non”.

Tanpa terasa air mataku mengalir deras sampai tak terbendung lagi. Setelah sekian lama aku tak mampu untuk menangis walau sesakit apapun derita yang harus ku terima. Tapi hari ini aku meleburkan kesedihan dan duka hati ini dalam tangisan.

“Makasih ya kamu telah membuat ku menangis”.

“ Ya non, aku senang kamu bisa melepaskan sedikit beban yang ada di pundakmu”.

“ya… sekarang aku merasa agak sedikit lega setelah menangis”.

Entah mengapa kamu tidak begitu asing lagi bagiku. Tiba-tiba hati ini begitu nyaman bicara dengan mu. Meskipun hanya bicara lewat chat di FB.

“Non aku memahami apa yang kamu alami saat ini. Rasa putus asa, ketidak berdayaan dengan masalah yang kamu hadapi. Tapi kamu harus tegar ya non. Jangan menjadi orang yang kalah dalam hidup”.

“Entahlah … aku idak tau harus bebuat pa lagi, semua masalah datang bagaikan air bah yang tak mampu kubendung”.

Dengan bijak kamu mengatakan, “ Non hidup kita ini sudah ditentukan oleh Allah. Sekarang tinggal kita menjalaninya, mau kemana takdir hidup ini akan kita bawa. Apakah mau dibawa ke arah yang baik atau ke arah yang buruk”.

Aku hanya mampu mengerutkan kening membaca kata-kata yang kamu tulis.Sulit untuk ku pahamin maksud dan maknanya.

“Hahahahahahaha……”. Tiba-tiba kamu menulis kata ketawa.

“Kenapa ketawa.?”, tanyaku bingung.

“Lucu aja…” jawab mu pendek.

“Apanya yang lucu?”, tanyaku dengan donngkol di dalam hati

“Lucu membanyangkan wajah mu yang lagi bingung baca tulisanku tentang takdir. Kamu tentu susah untuk memahaminya karena saat ini kamu dalam kebingungan akan jalan hidupmu”.

“hhuuufff…. Iya”. Ku hembuskan nafasku untuk menghalau kesal di hati karena ditertawakan.

Iklan
 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Desember 2009 in Cerpen

 

Tag: ,

5 responses to “Cerpen:Lara Hati Yang Sunyi ~bag.5~

  1. Andri Yansyah

    1 November 2012 at 2:33 pm

    keren,,, ini tu ( maaf ) cerita, apa bagian dalam hidupmu
    tapi,,,, aku sudah bilang keren, tadi akau baca habis

     
    • putianggraini

      5 November 2012 at 5:50 am

      Terima Kasih atas pujiannya, saya sungguh senang jika cerpen/cerber ini bisa menghibur saudara. ini adalah cerpen/cerben pertama yang bisa saya buat setelah mencoba berkali2 membuat cerpen selalau kandas alias buntu. Cerita ini hanya fiktif bukan bagian dari hidup saya. Sayang saya belum sempat menuntaskan cerita ini, Insya Allah saya akan tuntaskan sampai the end, karena banyak juga yg nunggu akhir dari cerita ini. Saya sungguh ga menyangka kalau banyak juga yg suka sama cerita saya ini. tadinya saya ga PD untuk mempostingnya. maklum baru pemula bangat dalam menulis cerita. hehehehe…..

      salam kenal mas Andri… maaf baru balas. baru sempat buka blog lagi…..

       
      • Andri Yansyah

        5 November 2012 at 11:26 pm

        jangan lupa aku tunggu ya…………..

         
      • putianggraini

        6 November 2012 at 12:11 am

        Insya Allah….

         
      • Andri Yansyah

        6 November 2012 at 1:08 am

        trimakasih sama 2 putianggraini ( tolong di kasi tau kalo ceritanya udah beres ) takutnya saya melewatkanya……………hi hi ( maaf )

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: