RSS

LARA HATI YANG SUNYI ~bag 6~

13 Jan

Betapa menjenuhkan hari ini. Ku coba pahami semua yang terjadi pada diri ini tapi ku tak mampu menemukan maknanya. Dari kaca jendela kantor ku lihat burung bertenger dari satu dahan ke dahan yang lain. Berkicau merdu menyanyikan lagu kebebasan jiwa. Tiba-tiba hp ku berbunyi, ternyata ada pesan masuk. Kuraih hp yang kuletakkan di atas meja kerjaku.

“ Pagi non “. Ternyata itu sms dari kamu orang misterius. Aku hanya mampu terdiam. Bagaimana kamu bias mendapatkan nomorku padahal aku tidak mencantumkan nomor hp ku di FB.

“Pagi juga”, balasku.

“Non… di pagi yang cerah ini kamu harus semangat ya. Jangan biarkan mendung di hatimu memudarkan cahaya hangat yang disampaikan oleh mentari pagi. Cairkanlah laramu bersama indahnya kicauan burung yang menyambut pagi ini”. Balasmu lagi.

“aku iri melihat burung yang bisa terbang bebas tanpa ada beban dan duka di hatinya. Menendangkan lagu kebebasan jiwa”.

“Sabar ya non, saat itu akan datang menghampiri kamu”. Kau coba menenangkan diriku yang sedang gundah.

“ Semoga saja”. Sahutku

Setelah kutunggu beberapa lama kau tidak ada lagi sms aku. Terasa ada yang kosong dalam hati ini.

Tiba-tiba ingatanku melayang ke masa lalu. Masa disaat aku masih bersama orang yang ku cintai mas Zim. Tapi cinta itu harus kandas karena perbedaan dan jurang pemisah yang terlalu dalam diantara kami.

Tahun 2002 aku menginjakkan kaki di Jakarta, mencoba mencari peruntungan hidup dirantau orang. Aku  meninggalkan kampung halaman hanya untuk mencari pengalaman dan hakekat akan hidup ini.

Di Jakarta inilah aku berkenalan dengan mas  Zim.

“Sore”, sapa mu

“sore juga”, jawabku sambil ngos-ngosan.

“Ayo lari”, ajakmu

“Ya.. duluan aja, aku capek”, jawabku sambil terus jalan karena kaki ini terasa agak pegal.

“Ayo, pelan-pelan aja”, ajak mu lagi

“Ya…”, akhirnya aku lari juga sambil ditemani dia

“Kamu sendirian aja larinya?”, tanyamu

“Iya”, jawabku pendek

“Baru kali ini lari di Monas?”, tanyamu lagi

“Iya, kamu sering lari sore di sini?’ aku balik bertanya

“Hahahahahaha…. Saya dah berlumut di sini”, kata mu sambil ketawa

“Oooo… “, kata ku

“kalau boleh saya tahu siapa nama mu”, tanya mu sambil memandang kearah ku

“Apa itu penting?”, tanyaku

“Ya kan ga enak masa dah lari bareng begini kita ga saling kenalan”, jawabmu

“Aku Asti”.

“Aku Zim”.

Itulah awal aku berkenalan dengan mas Zim. Waktu itu aku sedang lari sore di monas.

Sejak saat itu, hari-hari kami lalui dengan canda dan pulang bareng. Kita saling berbagi tentang masalah-masalah hidup yang kita lalui. Kamu sering menjemputku ke kantor jika jam kerja dah selesai. Dan tanpa kami sadari tumbuh suatu rasa diantara kami.

“Asti…. Sudah selesai pekerjaannya?” ,tanya mas Zim lewat telephon

“Belum mas”, jawabku

“Masih banyak lagi????”, tanya mas Zim kembali

“Ga mas… tinggal dikit lagi. Bentar lagi kelar ko. Mang kenapa mas???”.

“Lho ko tanya kenapa, ini sudah jam berapa???? Jam kantorkan udah dari tadi selesainya. Apa mau lembur lagi????”

“Sebentar lagi kelar ko mas. Kalau mas capek ya pulang duluan aja. Nanti saya pulang naik angkutan umum”.

“Mas  ga capek, mas akan tunggu adek. Kalau dah selesai pekerjaannya telephon mas ya?.

“Benar mas ga capek?’.

“Udah ga usah pikirin mas. Selesaikan saja pekerjaannya, biar adek bisa  cepat pulang dan istirahat”.

“ Ya mas”.

Jam 18.00 WIB akhirnya pekerjaanku selasai juga. Aku langsung pulang diantar mas Zim naik motor.

Sore ini mas Zim janji untuk menemaniku lari di Monas. Tapi setelah 1 jam menunggu kenapa mas Zim belum datang juga. Ku coba telephon dia tapi hpnya ga aktif. Aku bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan mas Zim? Tak lama hpku berbunyi ternyata dari mas Zim.

“Dek mas minta maaf ga bisa menemanimu lari hari ini, karena mas harus ngantar ibu pergi berobat”.

Dengan sedikit kesal ku bertanya, “Kenapa tidak dari tadi mas kabarin aku, kenapa hp mas tidak aktif. Dari tadi aku telephon ga bisa dihubungi?”.

“Maaf tadi hp mas baterainya lowback. Ini baru mas chas. Maaf ya dek”.

“ ya…”

“Ade sekarang lagi dimana?”.

“ Di monas mas, dah satu jam aku disini menunggu mas”, jawabku

“Dek hari mendung, lebih baik ade pulang saja sekarang ya”.

“Bentar lagi lah mas. Masih betah di sini”.

“ Lho mau pulang jam berapa? Sebentar lagi turun hujan. Nanti adek kehujanan. Mas ga mau ade sakit. Lebih baik pulang sekarang biar ga kehujanan”.

“Ya mas, adek pulang”, jawabku sambil melangkah menuju gerbang keluar Monas

“Hati-hati di jalan ya dek”, kata mu dengan lembah lembut.

“Ya mas”, jawabku

Tanpa terasa sudah 2 tahun aku menjalin hubungan dengan mas Zim. Waktu luang selalu kami lalui bersama. Kadang-kadang waktu senggang kami pergi ke pantai, nonton, bahkan hanya pergi makan dan lari sore di Monas. Tapi tempat favorit kami adalah Monas karena kami sama-sama suka lari disore hari. Aku dan mas Zim memiliki banyak persamaan di dalam hobi. Tapi tak jarang kami berdebat dalam hal prinsipil.

Biasanya aku lebih ngotot kalau sudah berdebat. Mas Zim lebih banyak mengalah. Dia begitu mengerti dan paham akan sikapku yang keras. Mas Zim selalu ada disaat aku butuhkan. Dia selalu menghiburku disaat aku sedih dan letih. Dia dengan sabarnya selalu mendengarkan keluh kesahku bila aku kesal terhadap sesuatu. Dia yang paling cemas dan bawel bila aku sakit. Mas Zim tempat aku bertukar pikiran. Dia juga yang banyak mengajarkan aku akan arti dan makna hidup ini. Mas Zim benar-benar orang yang pengertian dan sayang sama aku.

Tapi ada satu hal yang membuat hati ini resah dan bertanya-tanya. Dia tidak pernah mengenalkan aku pada keluarganya. Sampai saat ini aku tidak kenal dengan kedua orang tuanya. Setiap aku mencoba bicara tentang keluarganya dia selalu mengalihkan pembicaraan.

Siang ini untuk yang kedua kalinya mas Zim tidak bisa menepati janjinya menemaniku ke pantai. Karena ada urusan keluarga katanya. Akhirnya aku pergi ke toko buku Gramedia sendiri. Sudah lama aku tidak membeli buku bacaan. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu sosok yang tidak asing bagiku. Dia mas Zim. Bukakan dia bilang ada urusan keluarga, tapi mengapa dia ada di toko buku ini? Dan siapakah wanita yang bersamanya itu? Dan anak perempuan kecil itu anak siapa?

“Papa…. Sini”, panggil anak kecil itu sambil menarik tangan mas Zim.

Betapa terkejutnya aku disaat anak itu memanggil papa kepada mas Zim. Ku coba untuk mengingkari penglihatan dan pendengaranku. Ku katakana pada diri ini bahwa ini adalah mimpi. Ku tepuk-tepuk pipi ini berharap aku tersadar dari mimpi ini, tapi aku tetap saja melihat pemandangan yang mengiris hati ini. Ternyata ini bukan mimpi, ini adalah nyata. Dengan mesra mas Zim merangkul wanita yang tak lain adalah istrinya dan menggandeng tangan anak kecil itu. Saat ini lantai  yang ku pijak terasa seakan amblas ke dalam perut bumi. Tapi ku caba bertahan sadar, aku tidak mau menimbulkan kegaduhan bila ku pingsan atau menangis disini.

Semalaman ku tumpahkan rasa pilu dan lara dihati ini lewat tangis. Sekarang aku baru mengerti kenapa mas Zim tidak pernah memperkenalkan aku ke orang tuanya atau membicarakan masalah keluarga besarnya. Ternyata mas Zim sudah menikah dan mempunyai seorang putri yang cantik dan lucu. Kenapa mas Zim tega berbohong padaku??? Kenapa????

Hanya itu yang bisa ku tanyakan pada diri ku sendiri. Betapa bodohnya aku.

Setiap hari dalam minggu ini mas Zim menelphon menlphon ku tapi aku tak pernah anggkat dan smsnya juga ga pernah ku balas. Hanya Sri teman kantorku yang tahu permasalahanku dan dialah yang selalu membantu aku untuk berbohong pada mas Zim kalau aku sudah pulang bila mas Zim datang menjemputku. Aku selalu menghindar bertemu dia.

Ku putuskan untuk meninggalkan kota Jakarta, surat pengunduran diri yang sudah 3 hari  ku ajukan kepimpinan akhirnya dikabulkan.

“Asti kamu benar-benar mau keluar dari pekerjaan ini dan meninggalkan kota Jakarta ini?’, tanya Sri penuh kebingungan.

“Ya Sri… aku harus meninggalkan Jakarta ini”.

“Apa sudah kamu pikirkan baik-baik akan keputusan yang kamu ambil itu. Bukankah saat ini karier kamu sedang menanjak Asti. Sebentar lagi kamu akan dipromosikan menduduki jabatan manager bagian produksi?”, tanya Sri kembali

“Ya Sri, aku sudah memikirkan semua keputusan yang aku ambil ini. Aku ga mau menjadi pecundang bagi sebuah rumah tangga yang harmoni. Aku ini wanita Sri, aku tahu bagaimana sakitnya bila pasangan kita harus berbagi kasih dan sayang dengan wanita lain. Aku ga mau menggangu rumah tangga orang Sri. Biarlah aku yang mengalah, membawa duka dan lara ini”, aku berusaha menjelaskan pada Sri alasan aku memutuskan keluar dari pekerjaan ku dan pergi meninggalkan kota Jakarta.

“Kamu akan pergi kemana?”, tanya Sri penuh selidik.

“Ga tahu”, jawabku. Aku tidak ingin satu orangpun tahu aku akan pergi kemana dan tinggal dimana.

“Tapi aku bisa minta tolong untuk terakhir kalinya ga Sri”, tanya ku pada Sri.

“Katakan saja, aku pasti akan menolong mu”, jawab Sri penuh semangat

“Tolong berikan suratku ini pada mas Zim”, ku sodorkan amplop putih pada Sri.

“Ya akan aku berikan surat ini padanya”.

“Makasih ya Sri kamu memang teman baikku”. Ku peluk Sri sebagai salam perpisahan. Sri tak mampu membendung butiran-butiran air matanya.

“Hati-hati ya Asti, kalau kamu ada masalah dan butuh bantuan ku, jangan segan-segan telephon aku”.

“Pasti Sri, karena kamulah teman terbaik yang ku punya”.

Dengan perasaan sedih aku langkahkan kaki meninggalkan kantor setelah berpamitan dengan semua karyawan yang satu ruangan dengan ku.

Tiba-tiba deringan hp membuyarkan lamunanku. Ku lihat ternyata ada sms yang masuk.

“Non jangam keasyikan melamun. Itu tidak baik bagi jiwa, malah akan menambah beban duka dan lara mu. Lupakanlah masa lalu, melangkahlah menyonsong hari ini”, itu bunyi sms. Ternyata itu sms dari orang misterius. Bagaimana mungkin dia tahu aku lagi melamun ???.

“Siapa lagi yang melamun”, jawab ku dengan rasa sengit di hati

“Sudahlah non aku tahu ko apa yang kamu lakukan hari ini. Kamu lagi flashback ke masa lalukan?”.

“Aaahhh terserah kamulah”, balas sms ku.

“Hahahahahahahaha…”. Kamu  mengirimkan sms bertuliskan kalimat ketawa.

“Kenapa kamu ketawa?”, tanyaku penuh kebingungan.

“Aku senang kalau kamu ngambek. Kelihatan manjanya kamu?”.

“Aaahhh….?????”, cuma itu yang mampu ku tuliskan untuk membalas sms kamu.

“Non cobalah untuk bangkit, lupakanlah masa lalu. Kalau kamu masih saja terbuai oleh masa lalumu, itu akan menghambat kamu untuk bangkit dari kedukaan. Tataplah hari ini dan hari esok yang jauh lebih baik. Aku tidak tega lihat kamu selalu bersedih karena masa lalu. Sudah waktunya kamu menutup lukamu non”. Itu sms kamu berikutnya.

Benarkah aku harus menutup luka ku ini???? Luka yang teramat sakit dan pedih karena sayang, cinta dan bohong. Apakah aku mampu untuk melupakan kesedihan ini. Tanyaku dalam hati.

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Januari 2010 in Cerpen

 

Tag: ,

6 responses to “LARA HATI YANG SUNYI ~bag 6~

  1. cobaberbagi

    13 Januari 2010 at 12:10 pm

    kembangkan terus bakatnya mbak. salam kenal

     
    • putianggraini

      8 April 2010 at 12:30 pm

      terima kasih mas coba berbagi… salam kenal juga…..

       
  2. BENY KADIR

    14 Januari 2010 at 8:13 pm

    Salam kenal!
    Wah,asyik juga baca cerpen ini.
    Alur ceritanya bagus. Tokoh misteriusnya tetap membuat penasaran pembaca.
    Selamat dan sukses,Mba.
    Salam hangat dari Flores.

     
    • putianggraini

      15 Januari 2010 at 2:10 am

      salam kenal juga mas beny… terima kasih sudah baca cerpen saya, teruslah baca kelanjutannya. salam buat flores yang asri dan indah….

       
  3. erni cheremichtak

    8 April 2010 at 6:55 am

    aku tiba-tiba aja mengingat masa laluku memang sich………..bgitu skt jka kita telah d bhongin dgn cinta yang kita sayangi kembangkan trus cerpenx yach………..salam buat kakakq mus di kalimantan ma shabatku narti………..

     
    • putianggraini

      9 April 2010 at 1:45 am

      maaf ya mba kalau cerpenku membangkitkan luka lama mba….
      salam kenal….

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: