RSS

Cerpen : LARA HATI YANG SUNYI ~bag 7~

16 Jan

Sudah dua hari kamu tidak ada online dan tidak ada sms aku orang misterius. Ku coba menghubungi mu lewat hp tapi tidak bisa. Setiap aku menghubungimu yang kudengar selalu suara dari operator yang mengatakan nomor yang ada tuju sedang tidak aktif. Setiap pesan yang ku kirim di inbox kamu ga pernah kamu balas. Bukankah kamu bilang selalu ada buat aku. Tapi mana buktinya, kenyataannya kamu sudah dua hari tidak bisa ku temui. Tidak tahukah kamu orang misterius saat ini aku butuh kamu, butuh teman bicara. Kemanakah kamu hai orang misterius…kemana?????????????????

Dengan putus asa ku logout dari FB. Kurebahkan tubuh ini di kasur berusaha untuk menenangkan diri karena benci dan kesal. Tapi kenapa aku harus kesal dan apa yang aku kesalkan. Kamu orang misterius bukan siapa-siapanya aku. Tapi kenapa aku tiba – tiba benci padanya. Apakah karena dia tidak menepati omongannya?. Atau karena keinginan ku yang tidak terpenuhi untuk berbicara dengannya?.

Malam ini benar-benar terasa sunyi. Sendiri di ruangan yang berukuran 3×4 m.Tak terasa air mata ini mengalir menjebolkan pertahanan hati. Begitu sedihkah hidupku ini? Terdampar dalam kehampaan dan kekosongan kasih. Tiada teman untuk berbagi dan bercanda. Apakah akan selamanya aku akan hidup sendiri dalam lara dan duka ku ini. Ya Allah berilah hambamu yang hina ini kekuatan hati agar aku bisa tegar dalam menjalani kedukaan ini. Sampai detik ini ku tak bisa mengerti kenapa mas Zim berbohong padaku.

“Non maafkan aku yang telah membiarkan mu sendiri selama 2 hari. Saat ini kamu tentu merasakan sepi dan sedih dalam kesendirian mu”. Tiba-tiba orang misterius mensms ku di saat aku sudah putus asa untuk menghubunginya.
Ku hapus air mataku dan ku baca kembali sms itu. Benarkah ini sms dari mu orang misterius.
“Ya tidak apa-apa ko, lagian aku tidak merasakan sepi dan sedih”, ku coba menutupi perasaanku. Aku tidak mau kali ini dia bisa menebak perasaanku lagi.
“Apakah begitu penting untuk berbohong non?”, bunyi sms mu.
“Berbohong apanya?”, tanyaku
“Ya berbohong, kamu mencoba mengikari perasaan kamu sendiri”. Itu isi sms kamu berikutnya.
“Siapa yang mengingkari perasaan sendiri, jangan asal menebak dan mengambil kesimpulan sendiri”. Ku balas smsnya.
“Non…non… kenapa juga masih mau mungkir. Pesan yang kamu tulis di inbox ku, itu sudah jelas menggambarkan kesepian dan kesediahan mu. Bukankah kamu menulis pesan yang menanyakan dimana aku dan kamu juga menuliskan bahwa kamu butuh teman untuk berbagi”.
“Ya…”, akhirnya aku tak mampu lagi untuk berbohong menutupi perasaanku.
“Apakah kamu habis menangis?, jangan lagi bohong ya non. Kalau kamu masih saja berbohong menutupi apa yang kamu rasakan, aku tidak akan bisa bantu kamu non. Aku harap kamu mau jujur terhadap dirimu sendiri dan terhadap aku”. Begitu panjangnya sms yang kamu kirim.
Belum sempat ku kirim balasan sms untukmu, sudah muncul sms berikutnya darimu.
“Non…. Sekarang ceritakanlah pada ku, apa yang kamu rasakan saat ini, biar sedikit terangkat lara di hati mu”.
“Entahlah aku tidak mengerti, kenapa malam ini hati ku begitu sedih”. Balasku
“Cobalah kamu merenungi secara perlahan-lahan dan tenang. Cobalah salami hati dan jiwa mu sendiri, maka kamu akan menemukan jawabannya disitu. Kamu akan tahu apa yang menyebabkan kedukaan dan lara di hati mu”.
“Ya… “, hanya kalimat itu yang bisa kutulis lagi.
“Hari sudah larut malam non… sekarang tidurlah biar kamu bisa bangun dikala subuh. Dan hiruplah udara subuh, itu akan membuat dada mu terasa lega karena mengalirnya oksigen yang murni kedalam paru-paru dan membuat pikiranmu jernih”.
“Ya….”, lagi-lagi kutulis kata ya.
“Tapi kalau kamu tidak terlalu capek bangunlah dua pertiga malam untuk sholat malam dan cobalah merenung sesaat menyelami hati dan jiwamu yang sedih, ku harap kamu akan menemukan kerelaan dan keikhlasan disana terhadap apa yang kamu alami”.
“Ya…”.
“Hahahahaha…. Non ini untuk ketiga kalinya kamu Cuma jawab ya. Aku seperti bicara ma mesin yang hanya diprogram untuk selalu menjawab ya, apapun yang dibicarakan orang padanya. Tanpa dia peduli apakah benar atau salah yang dikatakan orang itu”.
“Hahahahahaha…..kamu ada-ada saja”, itu balasan sms dari ku. Akhirnya aku tak mampu menahan ketawa begitu baca sms kamu.
“Non kamu manis kalau tertawa. Sekarang aku sudah agak tenang karena kamu sudah bisa tertawa malam ini, jangan terlalu larut dalam sedih ya non dan istirahatlah. Eeeiiit jangan dibalas dengan jawaban ya lagi”. Sms mu yang ini membuat aku tersenyum dan bingung. Bingung harus jawab apa kalau bukan ya. Akhirnya ku jawab, “Oke….!”.

Hp akhirnya ku offkan dan aku tidur dengan perasaan agak tenang. “Terima kasih orang misterius”. Ku ucapkan itu dalam hati sambil mengembang sebuah senyum dibibirku. Senyum yang mengantarkanku ke alam mimpi malam ini.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Januari 2010 in Cerpen

 

Tag: , , ,

2 responses to “Cerpen : LARA HATI YANG SUNYI ~bag 7~

  1. brutals

    17 April 2010 at 1:26 pm

    lara haty terobati saat org yang kita cintai datang membawa bunga dan senyuman maniz …yang selalu di pancarkan di setiap langkah kaki nya .!

     
    • putianggraini

      17 April 2010 at 11:52 pm

      iya …….. cinta itu penuh dengan kejutan yang bisa membuat lara hati menjadi happy…..

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: