RSS

cerpen:HUJAN DAN PLASTIK HITAM ~bag 2 (the end)~

22 Jan

Begitu sampai di Manggarai ku lihat seorang bapak-bapak mengendarai motor memakai jas hujan dengan cara aneh. Masa dia lebih menutupi tasnya di belakang sementara tubuhnya dibagian depan cuma ditutupi sampai dada saja. Bukankah dia akan menghadang air dari depan???… wah bapak ini ternyata tidak kreatif bangat. Demi tas dia rela basah-basah dan dadanya tidak terlindungi dari angin dan hujan. Apa itu tidak berbahaya bagi kesehatannya. Lebih baik itu tas dibungkus pakai plastik.

Benar-benar deh bapak ini, sebegitunya pengorbanannya pada tas.

“Apa isi tas itu ya”, tanyaku dalam hati.

Kaki ku yang dari tadi kena jempretan air mulai terasa dingin. ku lihat seseorang mengendarai sepeda dengan santainya di tengah gerimis yang mulai deras. Dia memakai sandal dari karet yang bagian depannya tertutup. Tentu hangat kali ya kalau kaki ku dibungkus pakai sandal itu. Otak  ku mulai lagi menghayal. Ku membayangkan melompota dari motor yang jalannya pelan terus ku hentikan pengendara sepeda dan kurampas sendalnya. Lalu ku berlari lagi naik motor.

“Hahahahahaha…..”, sekarang yang menghayal bukan pikiran usil lagi tapi pikiran kriminalku.

Melihat kaki ku tidak diam suamiku bertanya” ada apa lagi?”.

“Kaki ku kedinginan”, jawabku

“Ooo… bungkus pakai plastik  aja “, suruh suamiku sambil menyodorkan plastik hitam berikutnya dengan sebelah tangannya, karena dia tetap mengendarai vespa.

“Apa??????… plastik hitam lagi?”, aku benar-benar mendapat supreis pagi ini.

“ga mau… biar aja kaya gini ga usah dibungkus lagi”, tolak ku.

“Emang aku ini apaan sii masa hampir separuh tubuhku di bungkus pakai palastik”, gumanku dalam hati.

Di sebuah halte di daerah tebet ku lihat ada murid ku lagi nongkrong di sana. Kayanya dia lagi menunggu mobil angkutan umum yang akan mengantarkan dia ke sekolah. Aku melintas di depannya tapi dia tidak mengenalku. Pikirku kalau jam segini masih saja di halte apa tidak terlambat nantinya sampai di sekolah????.

Begitu mendekati persimpangan di pancoran jalan mulai macet. Orang-orang kelihatan buru-buru semua. Tapi jumlah pengendara motor sedikit. Tidak seperti biasanya, apa karena hujan ya. Mobil angkutan umum padat bangat penumpangnya seperti mau miring sebelah karena jumlah penumpang tidak lagi sesuai kuota. Biasanya mobil angkutan yang seperti ini aku temui di waktu jam pulang kantor alias sore hari bukan pagi jam 6.10 wib ini.

Gerimis pagi ini semakin bertambah deras saja. Kalau suamiku tetap mengantarkan ku sampai ke sekolah bisa-bisa dia kehujanan. Ku lihat tanda-tanda hari akan hujan deras lagi.

“Bang…. Aku naik mobil umum saja dari sini”, kataku. Waktu itu masih di daerah pancoran.
“ Ga usah, biar di antar sampai ke sekolah. Gimana mau naik angkutan jalan macet begini. Kamunya akan terlambat”, jawab suamiku.

“iya juga ya, percuma juga ku di antar kalau akhirnya aku tetap terlambat”, sambil berfikir begitu melintas anak muridku didepanku. Jarak kami hanya satu langkah. Dia mau naik angkutan umum tapi anehnya dia tidak mengenal dan melihat aku. Di sampingku hanya terhalang oleh 2 kendaraan muridku yang lain sedang mengendarai motor juga tidak mengenalku. Apa pagi ini orang pada serius semua ya atau apa mereka pada sibuk memikirkan diri sendiri sehingga tidak peduli di sekelilingnya. Hanya aku saja yang sibuk mikirin yang aneh-aneh dari tadi, seperti kurang kerjaan di pagi hari. Begitu mendekati mampang ku lihat seorang bapak-bapak mengendarai motor dengan keranjang yang penuh berisi rambutan di belakangnya. Dia mengendarai tepat di sampingku.

“Wah rambutannya kayanya manis-manis nich, kalau aku ambil beberapa buah apa ya reaksi reaksi bapak ini’, pikirku dalam hati sambil mataku terus aja menatap buah rambutan yang segar-segar. Ternyata si bapak memperhatikan aku juga. Jangan-jangan si bapak ini tahu isi pikiranku, makanya dia melihat ku terus. Seperti orang yang sedang mengawasi kebunnya.

“Walah bapak, saya kan cuma menghayal bukan ingin melakukannya. Daripada BT duduk di belakang di tengah gerimis yang mulai deras. Mencoba mengusir rasa dingin ini dengan menghayal. Tenang pak ga usah takut rambutannya tidak akan saya ambil ko”, gerutuku dalam hati sambil tersenyum.

Tak teras aku hampir sampai di sekolah. Kira-kira 300 meter dari sekolah ku minta suami ku untuk berhenti di sebuah pekarangan kantor yang belum dibuka. Aku ingin mengganti kaos kaki dan pakai sepatu. Sekalian membuka plastik hitam yang ku pakai untuk menutupi rokku.

Leganya akhirnya aku terbebas dari plastik hitam. Sekarang aku baru bisa bersyukur dan berterima kasih pada inisiatif suamiku. Karena plastik hitamnyalah rok ku terbebas dari basah karena gerimis. Perjalanan ku dari rumah sampai ke sekolah yang ku tempuh 45 menit berakhir di pintu gerbang sekolah. Anak-anak menyambutku dengan sapaan dan salam. Di pagi yang dingin ini aku hadirkan senyum pagi ku untuk mu, my student.

*THE END*

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Januari 2010 in Cerpen

 

Tag:

One response to “cerpen:HUJAN DAN PLASTIK HITAM ~bag 2 (the end)~

  1. EM.Yazid

    23 Januari 2010 at 11:00 am

    kisah yang romantis, inspiratif……. saling menjaga dan peduli……begitulah seharusnya.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: