RSS

Cerpen : LARA HATI YANG SUNYI ~bag 9~

01 Feb

Jam 1.30 wib aku terbangun oleh mimpi yang mengusikku. Kenapa malam ini aku bermimpi tentang mas Zim???.

Aaahhh….. sedang apakah kamu saat ini  mas Zim. Mungkin saat ini kamu sedang tidur nyenyak dan bermimpi indah. Adakah kamu ingat akan diriku, seperti saat ini aku selalu teringat padamu walaupun aku berusaha melupakanmu. Tiba-tiba aku sangat rindu pada mas Zim, rindu yang sangat menyiksa bahtin ini. Tak terasa air mata ku mengalir karena merasakan ada yang kosong dan hampa di hati ini. Ada yang terenggut dari dalam jiwa.

Di luar titik-titk air hujan turun menghadirkan melodi malam bersama nyanyian kodok. Anganku melayang pada kenangan saat bersama mas Zim. Saat hujan sore di Monas, di kala kami lari sore.

Di tengah keasyikan kami menikmati kopi capucino tiba-tiba gerimis turun dengan dadakan.

“Dee gerimis …. Ayo kita bereteduh”, kata mas Zim

“Mau berteduh dimana mas, tidak ada atap yang bisa di jadikan untuk berteduh”, jawabku

“Kita berteduh saja di bawah pohon itu”, kata mas Zim sambil menunjuk sebuar pohon besar.  Kami pun berlari kearah pohon. Mencoba berteduh di bawah daunnya yang rindang. Ternyata gerimis semakin bertambah deras dan berganti dengan kucuran air hujan.

“Dee kayanya pohon ini tidak mampu lagi menahan kucuran air hujan. Lebih baik kita cari tempat yang lebih aman untuk berteduh”, kata mas Zim

“Kemana mas….”, tanyaku bingung.

“Di sana ada pos penjaga. Kita kesana saja”, mas Zim menunjukkan pos pejaga yang berada dekat pintu keluar.

“Jauhnya mas”, jawabku

“Ga apa-apa. Ayo kita berlari kesana dari pada di sini malah akan bertambah basah kuyup”. Kata mas Zim sambil membuka topi dikepalanya dan memakaiannya padaku. Akhirnya kamipun berlari menembus hujan yang sangat lebat. Kami berteduh di luar pos penjaga. Mas zim memelukku dari belakang, berusaha memberikan kehangatan pada diriku. Karena aku sudah mulai menggigil kedinginan. Aku memang tidak tahan dengan dingin apalagi bajuku agak sedikit basah.

Di bawah atap pos penjaga, kami memperhatikan tetesan air hujan yang jatuh di atas jalan aspal. Tiba-tiba mas Zim bertanya, “dingin dee ?”.

“Iya mas”, jawabku pendek. Mas Zim mempererat pelukkannya. Betapa damainya ku rasa saat ini bersama mas Zim. Tak lama hujan mulai reda. Kamipun akhirnya memutuskan untuk pulang.

“Dee…nati sampai di rumah mandi dengan air hangat ya dan jangan lupa minum teh hangat. Biar kamu tidak sakit dan masuk angin”, pesan mas Zim.

“Ya mas”, sahut ku. Betapa perhatianya mas Zim akan diriku.

Air mata ku mengalir semakin deras di pipi. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 3.30 wib. “Aaaahhhh sudah hampir subuh”, kata ku dalam hati sambil merebahkan tubuh ke kasur. Ku coba pejamkan mata kembali, setidaknya masih ada waktu 1.30 menit lagi untuk ku beristirahat, sebelum azan subuh berkumandang.

Ketukan di pintu kamar membangunkan ku. Ternyata mbok Samin memanggil – manggil dari luar.

“Ada apa mbok…”, sambil menguap ku buka pintu kamar ku.

“Sudah pagi non, apa non tidak ke kantor hari ini?’, tanya mbok Samin.

“Jam berapa ini mbok…”, tanya ku lagi.

“Sudah jam setengah enam non”, jawab mbok Samin.

“Apaaaa??????!!!!!”, teriak ku kaget.

“Duh mbok aku kesiangan”. Dengan tergesa – gesa aku meraih handuk dan berlari ke kamar mandi. Rupanya tidur ku nyenyak bangat tadi malam sehingga tidak mendengar bunyi alarm.

“Non sakit….????’, tanya mbok Samin memperhatikan wajahku ketika beliau mengantarkan sarapan ke kamar ku.

“Kenapa mbok bertanya begitu?”, tanya ku sambil minum teh manis hangat buatan mbok Samin.

“Wajah non kelihatan pucat”, jawab mbok Samin.

“Benarkah mbok “, sahut ku sambil berjalan menuju cermin. Ternyata benar kata mbok Samin, wajah ku kelihatan agak pucat. Mungkinkah ini disebabkan aku kurang tidur tadi malam?, tanyaku dalam hati.

“Non…..kalau non sakit tidak usah ke kantor. Biar nanti mbok yang ke kantor ngasih tahu kalau non sakit. Lebih baik sekarang non istirahat saja”, kata mbok Samin dengan wajah sedih dan prihatin.

“Ga usah mbok, saya tidak sakit ko. Mungkin karena kecapek an dan kurang tidur tadi malam. Soalnya tadi malam kerja sampai larut malam. Nanti juga baikan kalau dah makan roti bakar buatan mbok”, kata ku sambil mengunyah roti yang di buatkan mbok Samin. Aku terpaksa berbohong pada mbok Samin. Aku tidak mau mbok Samin tambah sedih dan jadi pikiran bagi beliau, kalaulah beliau tahu kenapa aku kurang tidur tadi malam.

“Asti…. sini..”, panggil Ran, begitu aku baru muncul di ruang kerja. Dia menarik tangan ku ke toilet wanita.

“Ada apa, kenapa kamu menarik ku ke toilet wanita?”, tanya ku penuh kebingungan.

“Masa pagi – pagi begini kamu takut ke toilet sendirian”, aku masih saja bicara karena benar – benar tidak mengerti dengan sikap Rani pagi ini, yang tiba –tiba saja membawa ku ke toilet.

“Yee siapa yang takut ke toilet. Mangnya aku anak kecil apa. Yang kalau mau pipis di temani mami”, jawab Rani agak sengit.

“Trus kalau bukan begitu ngapain kamu ajak saya ke toilet”, jawab ku tak kalah sengit juga. Habis aku agak kesal juga karena belum sempat meletakkan tas dan duduk, sudah di tarik ke toilet oleh Rani.

“Apa di rumah mu tidak ada cermin?”, tanya Rani

“Ya Allah…. Rani jadi kamu ngajakku ke toilet hanya buat nanya cermin doang?”, kata ku sambil tertawa.

“Bukan itu Asti… sekarang coba kamu bercermin”, suruh Rani sambil membalikkan badan ku ke arah cermin.

“Astaga….. pucat bangat kelihatan wajah ku Ran”, betapa kaget begitu aku melihat wajah ku di cermin lebih pucat dibandingkan di rumah tadi.

“Apa… kamu sakit Asti?’, tanya Rani dengan cemas.

“Ga… Rani, aku tadi lupa bedakan, kamu bawa bedak ga, aku minta dong”, ini untuk kedua kalinya aku berbohong lagi. Rani menyodorkan tas komestiknya. Ku tutupin wajah pucatku dengan bedak yang agak tebal dan lipstick yang agak menor. Aku benar – benar tidak mau orang tahu dengan kondisi tubuhku yang kurang sehat.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Februari 2010 in Cerpen

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: