RSS

LARA HATI YANG SUNYI ~bag 10~

08 Apr

“Asti kamu sudah sadar???”, samar-samar ku dengar suara lembut di sampingku. Ku palingkan kepala ke arah datangnya suara itu. Ternyata Rani duduk di sampingku dengan wajah cemasnya.

“Aku dimana Ran????”, tanya ku. Begitu kulihat sekelilingku, ruangan ini terasa asing bagiku. Penuh warna putih dan tiba-tiba aku merasa ada sedikit rasa nyeri di pergelangan tanganku. Ku lihat ternyata ada selang infuse terpasang.

“Kamu ada di rumah sakit Asti”, jawab Rani sambil memegangi tangan ku.

“Rumah sakit ????”. Aku sungguh bingung kenapa aku bisa sampai berada di rumah sakit. Ku coba mengingat-ngingat bagaimana aku sampai di sini. Tapi tiba-tioba kepalaku terasa pusing.

“Ya Asti… kamu di rumah sakit. Tadi siang kamu tidak sadarkan diri, waktu rapat”, Rani menjelaskan padaku kenapa aku sampai berada di rumah sakit.

“Berapa lama aku tidak sadarkan diri Ran”, tanya ku lagi

“Ada 30 menit kamu tidak sadarkan diri”, jawab Rani.

“sudah sekarang kami istirahat ya…. Aku pulang dulu nanti malam aku kembali lagi. Oh ya…. Bentar lagi mbok Samin datang, tadi sudah dikasih tahu kalau kamu dirawat di rumah sakit….”, lanjut Rani.

“makasih ya Ran… sudah menemani aku…”, jawab ku.

Ku coba kembali pejamkan mata, sepeninggalan Rani. Tapi belum sempat aku terlelap seorang wanita dantang menghampiri ku dengan senyum mengembang di bibirnya. Ternyata dia dokter yang akan memeriksa kondisi ku. di sampingnya berjalan seorang suster yang masih muda.

“Bagaimana… keadaan mba, apa terasa pusing…????”, tanya dokter itu dengan lembut.

“Iya dok… terasa pusing dan mual”, jawabku pendek.

“Mari saya periksa dulu ya…”. Sambil memegang pergelangan lenganku.
Dengan penuh kesabaran dokter itu memeriksa diriku, roman wajahnya berganti – ganti mimik. Kadang tersenyum padaku kadang seperti berfikir. Aku dengan pasrah memeperhatikan gerak – gerik dokter cantik itu.

“Sekarang saya buatkan resep obat buat mba ya, dan tolong diminum”, kata dokter manis itu sambil menuliskan resep obat dan menyedorkan pada suster muda.

Saya tertidur pulas setelah minum obat dari dokter. Disaat aku terbangun, aku lihat mbok Samin duduk disamping ku. Tapi yang membuat ku terkejut, begitu banyaknya bunga mawar di dalam kamarku.

“Mbok siapakah yang meletakkan bunga – bunga ini di kamar ku?”, tanyaku pada mbok Samin.

“Saya ga tahu non, tadi waktu saya masuk sudah ada bunga mawar di dalam kamar non. Saya juga terkejut karena begitu banyak bunga di kamar non”, jwab mbok Samin dengan wajah lugunya.

Dengan penuh keheranan, ku tatap bunga mawar yang berwarna-warni di kamarku. Ada warna putih, kuning dan pink. Aroma wangi dari bunga mawar itu menyejukkan ruang inap temaptku dirawat. Terasa sejuk dan tenangnya suasan diruangan ini.

Tak terasa sudah satu minggu aku dirawat di rumah sakit. Dan hari ini aku diperbolehkan pulang. Setelah Rani menyelesaikan urusan administrasinya, kami melangkah keluar mininggalkan rumah sakit.

Dan entah untuk keberapa kalinya aku dibuat terkejut lagi. Begitu kakiku melangkah masuk rumah, kulihat di dalam rumah banyak sekali bunga mawar. Bahkan lebih banyak dari yang di rumah sakit. Hampir disetiap sisi ruangan ada bunga mawar.

“Mbok Samin… sekarang tolong jelaskan pada saya siapakah yang meletakkan bunga-bunga ini”, tanyaku sambil menatap mata mbok Samin.

“Anu non… itu anu….anu..”. penyakit gagap mbok Samin kambuh lagi.

“Anu apa mbok. Tolong katakan yang jelas. Jangan bikin saya tambah bingung. Cukup sudah saya dibuat bingung dengan kedatangan bunga mawar tiap hari selama saya dirawat di rumah sakit tanpa saya tahu siapa yang mengirimnya. Karena bunga itu selalu ada disetiap saya bangun mbok”, kataku dengan sedikit kesal.

“Saya ga tahu non. Tadi ada mobil yang datang dari toko bunga membawa bunga-bunga ini. Katanya disuruh antar kesini. Waktu saya Tanya siapa yang nyuruh, mereka juga ga tahu. Karena mereka hanya disuruh sama majikan meraka mengantarkan bunga-bunga pesanan ini kesini”, mbok Samin mencoba menjelaskan.

“Sudahlah Asti, buat apa ini diperdebatkan, lebih baik sekarang kamu istirahat, kamu kan belum pulih betul dari sakit”, Rani mencoba menenangkan aku.

“Ya Ran… maaf aku telah merepotkan kamu”, jawabku sambil duduk dikursi.

“Sudah ga usah dipikirkan itu, yang penting sekarang kamu harus istirahat banyak biar tenagamu cepat pulih kembali. Ooooo…. Ya aku ga bisa lama-lama di sini karena aku harus kembali ke kantor lagi”, kata Rani.

“Ya Ran… terima kasih banyak ya atas pertolongan dan pengertian mu”,jawabku

“Selamat istirahat ya… “, jawab Rani sambil mencium kedua pipi ku.

Ku antarkan Rani sampai ke pintu. Saat aku membalikkan badan tiba-tiba mbok Samin menyodorkan amplop berwarna merah maroon.

“Apaan ini mbok???”, tanyaku

“Itu non, tadi mbok dikasih amplop sama yang ngantar bunga-bunga itu. Katanya disuruh kasihkan pada non Asti”, jawab mbok samin.

Ku perhatikan amplop merah maroon yang ada di tanganku. Perlahan – lahanku buka ternyata didalamnya ada kartu kecil bermotifkan bunga mawar merah. Kulihat ada tulisan dikartu itu.

“Selamat kembali ke rumah dan semoga cepat sembuh seperti sedia kala dan bisa beraktifitas kembali. Ku harap kamu senang dengan bunga mawar yang aku kirim”.

Salam

misterius

sekarang aku baru mengerti ternyata bunga-bunga mawar yang kuterima itu dikirim oleh orang misterius.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 April 2010 in Cerpen

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: