RSS

Cerpen: LARA HATI YANG SUNYI bag 12

15 Mei

mawar unggu“Asti, mau pulang ya?,” tanya Rani berlari kecil mengampirin ku.
“Iya Ran, ada apa?” tanya ku.
“Ga apa-apa, aku Cuma mau ikut ke rumah mu bolehkan?” jawab Rani.
Sedikit bingung aku jawab pertanyaan Rani,
“Tumben kamu mau ke rumah ku langsung, biasanya kamu kalau ku ajak langsung ga mau. Kata mu ga enak badan bau keringat pergi main kerumah ku.”
“Hahahahaha………. ,”dengan cekikikan Rani langsung mengamit tanganku dan berjalan di sampingku.

Tak terasa ternyata kamu sudah sampai di halaman rumah, karena sepanjang jalan saya dan Rani tertawa cekikikan mulu. Ada saja yang kami tertawakan.
“Assalammualaikum…mbok…mbok..,” panggilku
“Waalaikum salam…,” sahut suara dari dalam rumah. Tapi suara itu bukan suara mbok Samin yang selalu menyambut kedatangan ku. Namun suara itu… suara itu… tidak asing bagiku.. suara seorang wanita yang dulunya sangat dekat dengan ku.
Mungkinkah dia teman akrabku di kantor yang dulu??? Mungkinkah itu Sri??? Belum hilang keheran dan tanda tanya di hati ini muncul sesosok wanita muda yang cantik sambil tersenyum. Oh ternyata benar dia adalah Sri.
Tanpa kami sadari siapa yang duluan tiba-tiba kami sudah saling berpelukan dan menumpahkan tangis kerinduan karena sudah sangat lama tidak berjumpa sejak saya pindah ke sini.
“Bagaimana kabar mu Asti…?” tanya Sri setelah kami saling melepaskan pelukkan.
“Alhamdulillah baik-baik Sri….”
“Oh.. ya.. bagaimana kamu tahu tempat tinggalku???” tanyaku penuh keheranan. Karena aku tidak pernah memberi tahu dimana keberadaan ku setelah kepindahan ku, bahkan kami tidak pernah ada saling berkomunikasi.
“Ada deh… mau tahu aja…” jawab Sri sambil tersenyum.
“Ah… curang kamu Sri, ayo kasih tahu aku dong.”
“Aku yang ngasih tahu.” Tiba-tiba Rani menyela.
“Maafkan aku ya Asti, karena tidak minta izin kamu dulu untuk memberi tahu Sri alamat mu. Waktu itu saya ga tahu masalah yang kamu hadapi”, jawab Rani dengan wajah yang sangat menyesal.
“kalian berdua sudah saling kenal..?” tanyaku dengan penuh kebingungan.

Sengguh hari ini aku dikejutkan dengan berbagai supres yang tidak terduga-duga ini.
“Nanti kami ceritakan, bagaimana kalau sekarang kita makan dulu, aku sangat lapar nich dari tadi menunggu mu pulang.” Sela Sri.
“Hehehe… sorry, lapar juga ya non. Ternyata penyakit tukang makanmu ga hilang-hilang juga ya.” Jawabku.
“tapi aku mandi dulu ya, ga enak bangat nich badan dah lepek kaya gini oleh keringat.”
“Udah sana mandi, tapi ga pakai L ya…” sahut Sri dengan pura-pura memasang wajah cemberut.
Sore hari setelah selasai makan Rani pamit pulang. Dan malam harinya aku dan Sri menghabiskan waktu ngobrol seputar masalah di kantor yang dulu. Bercerita tentang keadaan Jakarta sekarang. Tak sedikitpun Sri menyinggung masalah mas Zim. Dan aku juga ga mau bertanya, biarlah masa lalu itu menjadi masa lalu yang harus aku lupakan dan kubur, walaupun masih ada ruang rindu buat mas Zim di hati ini.

Setelah lari pagi dan mandi kami berdua sarapan roti bakar dan segelas jus jambu biji yang telah disiapkan oleh mbok Samin di atas meja.
“Assalammualaikum…” tiba-tiba Rani nongol sambil nyengir kuda.
“Waalaikum salam .” jawab kami serempak.
“Kamu Rani sini sekalian sarapan.” Ajak ku
“Terusin aja, aku dah sarapan dirumah tadi sebelum kesini.” Jawab Rani sambil menarik kursi di samping ku.
Selesai sarapan kami bertiga duduk di ruang tamu sambil berceloteh apa saja. Tiba-tiba Sri bangkit dan masuk ke dalam kamar.
“Kamu mau pualng Sri..?” tanyaku karena kulihat dia menenteng tas dari dalam kamar.
“Siapa yang mau pulang… wek,” jawab Sri sambil melekkan lidahnya.
“Nah itu… kenapa kamu bawa tas,” Tanya ku mulai ga ngerti dengan apa yang dia perbuat.
“Sebenarnya kedatanganku kesini bukan hanya karena kangen pada mu Asti tapi ada yang mau aku sampaikan pada mu. Sebenarnya kemaren mau ku katakana tapi aku ga tega melihat kamu begitu letih pulang dari kantor. Jadi ku undur untuk mengatakan pada mu hari ini.” Dengan wajah serius Sri menjelaskan.

Tiba-tiba ada perasaan yang tidak enak merasuk dalam hati ini. Di tambah ku lihat wajah Rani begitu tegang. Ada apakah gerangan???? Apakah ada hubungannya dengan mas Zim??? Karena ku tahu kalau Sri juga berteman akrab dengan mas Zim.
Ku coba kendalikan emosi yang tidak menentu di dalam hati ini. Akhirnya ku beranikan diri bertanya setelah agak lama kami dalam keadaan terdiam.
“Apa maksudnya Sri..???”
Tanpa banyak berkata tiba-tiba Sri menyodorkan kotak kecil yang dibungkus dengan manis sekali dan sebuah amplot berwarna putih bermotifkan bunga mawar ungu.

“Apa ini Sri..?”tanyaku tambah bingung. Bingung karena kado dan amplop itu. Kenapa kado dan amplop itu bermotifkan bunga mawar, seperti yang dikirimkan oleh orang misterius pada ku kemaren-kemarennya. Ada hubungan apakah Sri dengan orang misterius itu. Apakah orang misterius itu…????? bermacam-macam pertanyaan berkecamuk dalam hati dan pikiranku ini. Dengan gemetaran ku terima kado dan amplop yang diberikan oleh Sri pada ku.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Mei 2011 in Cerpen

 

Tag: , , ,

2 responses to “Cerpen: LARA HATI YANG SUNYI bag 12

  1. cimut

    16 Mei 2011 at 3:47 pm

    jd ikut deg2an…..

     
    • putianggraini

      16 Mei 2011 at 4:34 pm

      hahahahahaha…. pertama penasaran… keduanya deg2an ketiganya apa ya….??????
      ikutin seterusnya… OK….

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: