RSS

DALAM KU BERMUHASABAH: YASIN… UNTUK OJEK LANGGANANKU

19 Jun

Di dalam metromini aku hanya mampu termangu diam, seakan tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Benarkah semua ini atau hanya mimpi..????
Tidak… ini bukan mimpi tapi ini adalah kenyataan..
Pak Dayat…….
Dua minggu aku tidak ada bertemu dengan beliau.

Aku celengak celinguk mecari pak Dayat di tempat biasa dia mangkal. Tapi tidak juga ku lihat dia di sana. Aahhh….. mungkin dia lagi ngantarkan langganan yang lain pikirku. Tiba-tiba seseorang nawarkan ojek padaku.
‘Iya… tapi aku lagi cari Pak Dayat”
“Pak Dayat….???????”
“Iya…….” Jawabku bingung. Kenapa jawaban orang ini terasa aneh bagiku. Biasanya dia akan langsung bilang kalau pak Dayat lagi mengantarkan langganannya yang lain bila beliau tidak ada ditempatatau bilang beliau tidak ngojek.

Pak Dayat adalah ojek langgananku. Beliau orangnya sudah berumur hamper 60 tahun, tetapi badannya masih sigap. Beliau tukang ojek yang mempunyai banyak langganan. Mulai dari yang muda sampai yang tua. Laki-laki dan perempuan. Beliau orangnya sopan dan selalu ceria. Mungkin itu yang membuat orang senang memakai jasanya. Beliau selalu memperlakukan langganannya seperti anggota keluarganya.

“Pak Dayat sudah meninggal mba.”
“Apa…..???”
“Pak Dayat sudah meninggal.”
“Bang saya serius… apa pak Dayat ga ngojek hari ini. Atau lagi ngantarkan langganan yang lain??”
“Pak Dayat sudah meninggal mbaaa…….”
“Jangan bercanda bang…yang benar aja.”
“Benar mba… buat apa saya nyumpahi teman sendiri.”
“Yang benar bang…?”
“Ya si mba ga percaya ma saya.”
“Bro sini deh..” tukang ojek itu memanggil temannya
“Pak Dayat sudah meninggalkan? Masa si mba ini ga percaya. Bilang saya bercanda.”
“Iya mba… Pak Dayat sudah ga ada.”
“Benarkah…??”
“Benar…. Sudah dua minggu beliau meninggal.”
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…” hanya itu yang mampu aku ucapkan.
“Mari saya aja yang ngantar mba.”
“Makasih bang saya naik angkutan umum saja.”
Antar percaya dan tidak akhirnya aku menstop angkutan umum. Di dalam mobil aku yakinkan diriku bahwa yang aku dengar itu adalah kenyataan bukan mimpi. Dengan susah payah ku bendung air mata ini biar tidak mengalir disela-sela pipiku.
Klu intip senyum mentari disela-sela kaca mobil. Hanya sebuah mendung yang kutemukan disana. Sebuah lorong hampa dan abu-abu…
Kehilangan yang begitu mengiris kurasakan….

Pak Dayat tukang ojek yang berbeda dengan tukang ojek yang lain yang aku kenal. Beliau memiliki etika yang baik, berpakai selalu rapi dan berbicara sopan. Beliau juga tukang ojek yang selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan langganannya. Tidak pernah menagih ongkos yang kelewatan alias mencekik kantong penumpang. Pernah ada suatu kejadian yang membuat aku terharut. Waktu itu ada pengendara motor yang mencoba menyelip beliau dari sebelah kiri tapi pengendara itu salah perhitungan sehingga menyenggolku. Pak Dayat marah bukan main pada pengendara motor itu. Padahal beberapa hari yang lalu tangan beliau pernah kesenggol sama TV penumpang penggendar motor yang lain. Tapi beliau hanya bilang hati-hati itu berbahaya sama penumpang pengendara motor. Begitulah pak Dayat selalu menjaga keselamatan penumpangnya.

Selama aku jadi langganan beliau banyak pituah hidup dan cerita-cerita tentang Jakarta tempo dulu bahkan masalah politik, padahal aku bukanlah orang yang suka bicara politik. Dia juga senang bercerita tentang anak-anak dan kehidupannya mulai dari masih muda sampai sekarang. Oh ya yang sangat berkesan bagiku adalah dia selalu memuji istrinya. Kecantikan istrinya dan kebaikan istrinya. Tak ada satupun keluhan tentang istri dan anak-anaknya yang keluar dari mulutnya.
Beliau juga perhatian sama penumpangnya. Itu yang aku rasakan. Beliau selalu tahu keadaan kondisi badanku. Apakah aku kecapek-an atau sakit. Padahal aku selalu sembunyikan kondisi badanku, tapi dia selalu tahu dan bertanya. Menyuruhku minum obat dan menunjukkan ramuan tradisional yang baik untuk kondisi badanku serta menasehati jangan terlalu lelah kalau bekerja.
Pak Dayat engkau seperti orang tua bagiku. Disaat aku jauh dari orang tuaku.

Dua minggu yang lalu ternyata adalah pertemuan yang terakhir aku dengan engkau.
“Cari Pak Dayat mba?”
“iya..’
“Beliau lagi ngantarkan orang.”
“Oh…” akhirnya ku putuskan naik bus kota aja.
“Pak dicari ma si mba.”
“Mana…”
“Itu lagi berdiri disana.”
Pak Dayat menghampiriku.
“Mau kemana?”
“Ke Depok Pak. Bisa ga bapak ngantarkan saya ke halte dekat Utan Kayu?”
“Loh ko ke Depok nunggu mobil di sana. Dari sini aja, ada mobil langsung ko.”
“Saya janjian ma teman di sana untuk bareng-bareng ke Depok.”
“Oo.. kalau gitu naik mobil 41 aja.”
Tak lama mobil 41 lewat. Dengan sigap pak Dayat menstop mobil tersebut. Beliau menungguin aku naik mobil sambil berpesan hati-hati. Ku lihat Pak Dayat kembali kepangkalan ojek setelah mobil yang aku tumpangi jalan. Sikap pak Dayat itu membuat aku teringat papa. Sikap orang tua yang selalu melindungi putri kecilnya.

Di dalam mobil hatiku bertanya-tanya, kenapa Pak Dayat tidak mau mengantarkan aku kali ini. Padahal dia selalu siap mengantarkan aku kemanapun bila aku minta tolong. Tak pernah beliau menolak meskipun beliau baru memesan kopi atau menyulup rokoknya pasti ditinggalkannya dan memilih mengantarkan ku. Bahkan beliau selalu berpesan bila butuh dia telpon aja.
Tapi kali ini……??? Sudahlah mungkin beliau capek habis mengantarkan orang bantah hatiku.
Ternyata itu adalah isyarat bahwa aku tidak akan lagi bertemu dengan beliau.
Pak Dayat….
Aku akan hanya bisa mengantarkan Yasin buat mu yang telah lebih dahulu memenuhi panggilanNya. Semoga arwahmu tenang disisiNya dan mendapatkan tempat yang lebih baik dari duniamu.
Ya Allah, Ampunilah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya.

~~~~ AMIN ~~~~
……………………………………………………………………………………………………..
Kematian itu tidak perlu dicari atau didahului karena kematian itu sendiri dekat dengan kita. Kematian itu berada sangat dekat di urat nadi dileher kita. Bila sudah habis perjanjian sama Sang Kholiq di dunia ini maka kematian akan datang untuk menjemput kita menghadap sang penguasa alam. Dihadapkan pada persidangan menagih pertanggung jawaban kita selama di dunia.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Juni 2011 in Renunganku

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s