RSS

RINTIHAN HARAPAN SANG PIPIT

14 Des

terluka dan deritaTerasa begitu pedih disaat sang pipit menemukan kenyataan bahwa dia ditakdirkan kembali sendiri dalam mengarungi gelombang dan hantaman tajam hidup.

Disaat induk burung Dara bercanda dengan anak, dan Kesturi memadu kasih di semak-semak rumput ilalang, Sang Pipit kecil hanya diam terpaku di dalam sangkarnya. Mendengarkan celoteh mereka di atas dahan  dan di sarang  mereka dengan hati yang sangat miris. Sementara pipit yang lemah  di hadang oleh dilema di dalam hidupnya. Sang Pipit  mencoba  larikan duka hatinya dengan membuka hati pada sang waktu.Pipit berpikir  akan menemukan kebahagian di sana, ternyata sang Pipit salah, yang ditemukan hanyalah ketidak tulusan sebuah cinta dan sayang. Kembali hati sang Pipit tambah terkoyak. Disaat Pipit lemah benar-benar putus asa tak berdaya, datanglah sang Elang menguluran sayapnya, mengajak pipit untuk terbang melintasi angkasa melihat keindahan daratan. Dia tawarkan padanya akan arti kasih sayang yang tulus dalam artian yang sebenarnya.

Sang pipit  sangat bahagia, dalam hati dia berkata ternyata aku masih punya harapan untuk bahagia dalam hidup.Berbagai harapan Sang Elang  janjikan pada pipit yang lemah. Dia tunjukkan pada pipit bagaimana menatap hidup ini. Dia berikan apa yang telah hilang dalam hidup pipit kecil yang lemah.

Dia janjikan sebuah kehidupan bersama untuk mengarungi gunung dan angkasa biru  dengan sikap dan perilakunya pada sang Pipit. Sehingga Pipit  mempunyai semangat untuk menatap hari esoknya. Dia angkat Sang pipit dari ketepurukkannya di lembah yang tak bertuan. Dia jaga dan lindungi si Pipit lemah tak berdaya.  Pipit  benar-benar merasakan burung  yang sangat beruntung di dalam hidupnya. Setelah sekian tahun sang Pipit terjebak dalam pencariaannya.

Semua harapan untuk bisa hidup bahagia di hari tua disandarkan oleh pipit lemah kepada Sang Elang. Dengan harapan yang penuh Pipit langkahkan kaki meniti lembaran baru kehidupan ini….

TAPI……………………………………………

Semua harapan Pipit itu hanya sebatas mimpi.

Kini Pipit terjebak kembali dalam kepedihan hidup yang sangat dalam. Melebihi kepedihan Pipit yang terdahulu. Hanya berselang beberapa waktu sang Elang mengucapkan akan memberikan harapan untuk tetap mendampingi pipit lemah. Dengan tiba-tiba Sang Elang  renggut semua harapan yang telah dia semaikan di dalam hati Pipit. Pipit hanya bisa diam temanggu di atas ranting yang rapuh. Untuk menanggis Pipit  sudah tidak mampu lagi karena teramat sakit yang dia rasa. Dengan kekuasan dan keperkasaan yang dimiliki oleh Elang, dia hancurkan harapan Sang Pipit yang lemah . Berbagai alasan dia ucapkan untuk merenggut harapan dan kebahagian Si Pipit kecil. Alasan yang membuat si Pipit tidak mampu untuk membantahnya. Akhirnya Pipit pasrah dengan semua itu. Dia coba balut pedihnya dengan diam. Dihati Pipit berkata ternyata kebahagian itu bukan milikku. Pipit kini sadar kalau dia hanyalah burung kecil yang tiada arti, yang selalu dibenci oleh para petani, karena memetik padi yang mulai menguning di sawah.

Apalagi di saat sang Elang  bercerita tentang Nuri yang Elok rupa dan anggun. Semakin terpojoklah Pipit. Semakin benar-benar tertututp rapat harapan itu. Pipit melihat tidak ada sedikipun celah lagi untuk dia bisa bersama sang Elang. Celah-celah itu sudah ditutup sangat rapat sekali oleh Sang Elang. Malam itu Pipit  menangis tersedu-sedu. Luka itu bukan bertambah lebar lagi tapi hati ini sudah benar-benar hancur. Mulut ini hanya bisa mengucapkan lirih kenapa kamu begitu kejam sama ku Elang. Tidak tahukah kamu betapa rindunya hati ini pada mu. Betapa sepi dan sunyi hidupku kini. tidak tahukah kamu betapa gamangnya aku kehilangan semua ini dengan sangat tiba-tiba. Kumerindukan dekapanmu, ku merindukan belaianmu, ku merindukan pelukakanmu. Ingin ku menangis dalam pelukanmu. Menumpahkah semua pedih dan perih yang menyesak di dalam dada ini. Tapi itu aku paksa kubur Elang. Tidak sekalipun ku ucapkan padamu.

Dalam kebingungan Pipit coba untuk tegar. Tapi perkataan Sang Elang selalu menggema di antara apitan terjalnya jurung. “Dukungannya yg kunanti agar aku bisa kembali,tapi yg kudapat malah sakit hati. Kalau sampai kali ini dia masih seperti itu,berarti dia yang dulu menyemangatiku memang benar-benar telah hilang”.     Pipit  bingung kenapa sang Elang menuntut dia untuk menyemangati dia. Bukankah Sang Elang tahu kalau dia adalah Pipit kecil yang lemah yang membutuhkan  dukungan dan semangat dari Sang Elang. Agar dia benar-benar bisa kembali terbang dan berkicau ceria seperti dulu. Bukankah aku sudah mengatakan bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Aku … Si Pipit kecil yang tak berdaya terperangkap dalam sunyi dan sepi. Terpenjara oleh sangkar kepedihan, kesedihan, luka dan keterpurukan dalam hidup. Bukankah Sang Elang tahu kalau sayapku sudah patah sebelah.

Disaat Sang Elang  ungkapkan alasan untuk merenggut kebahagian Pipit. Pipit hanya mampu mengucapkan kata “Maafkan Pipit Elang  yang sudah menjerumuskan mu dalam kesusahan, kembalilah kekehidupanmu”…………..

“Jangan pikirkan cinta diantara kita. Pergilah terbang melalang buana, menjelajahi daratan demi daratan. Biar saja yangg pernah terjadi pada kita menjadi album kenangan.”

Sang Elang tidak tahu betapa sedih dan perih hati Sang Pipit, disaat harus menuliskan kata-kata itu. Mungkin Sang Elang berpikir betapa gampangnya Pipit mengucapkan itu. Padahal Pipit menuliskan itu dalam keadaan menangis dan sangat terpuruk, merasa hina dan rendah diri. Pipit menutupi kelemahannya, dia coba munculkan ketegarannya di hadapan sang Elang. Dengan maksud supaya Elang tetap merasa bebas dan lega terlepas dari sang Pipit. Dan meraih semua keinginanya. Sang Pipit  kubur harapan dan kebahagiannya. Dia biarkan hati ini terluka. Kerena dia tahu, bahwa  dia bukanlah burung Nuri yang elok rupa. Dia hanyalah seekor Pipit kecil yang memiliki sayap kecil yang kusam dan patah. Pipit sadar dia tak pantas menemani sang Elang yang memiliki sayap lebar dan indah untuk melalang buana menjelajahi belahan demi belahan benua kehidupan. Aku bukan burung yang elok rupa dan aku harus mundur biar tidak menjadi penghalang dia dalam mencapai tujuannya. Biarlah dia berbahagia bersama burung Nuri yang cantik dan anggun. Aku hanyalah sebatas banyangan dan kini sudah waktunya bayangan itu hilang, walaupun betapa besarnya hasrat hati sang Pipit ingin hidup berdampingan dengan sang Elang dalam mengarungi bukit-bukit dan lembah-lembah kehidupan, namun bayangan tetaplah bayangan yang akan sirna bersama hilangnya sinar.

Pipit tidak marah pada sang Elang . Sekian lama dalam hidup Pipit baru  kali ini dia tidak mampu membagi sayangnya pada pejantan lain selain diri sang Elang. Pipit bahagia bisa memberikan kasih sayangnya pada sang Elang. Meskipun kini itu sudah tidak berarti lagi bagi Sang Elang. Pipit ikhlas, sang Elang mengambil kembali kebahagian yang pernah dia semaikan dulu. Semoga sang Elang berbahagia selalu bersama Nurinya yang elok rupa. Dan semoga Allah selalu melindungi kalian berdua.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 14 Desember 2011 in Cerpen

 

Tag: , , , , ,

3 responses to “RINTIHAN HARAPAN SANG PIPIT

  1. someone

    16 Desember 2011 at 9:45 am

     
    • putianggraini

      16 Desember 2011 at 4:02 pm

      Entah siapa engkau sebenarnya, membuat aku bingung. But terima kasih telah memberikan sebuah lagu untuk cerpenku…

       
  2. Nur-i Edelweiss Crea

    23 Juli 2012 at 7:57 am

    Hmm.. Sma sprt ksh q.. Tp aq brng nuri yg tdk ada apa”a d dpn sang elang

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: