RSS

RUMAH TUA

05 Agu

Rumah tua mencoba menggantungkan sebuah harapan di tiangnya yang sudah mulai goyah.
Meskipun kini dia telah ditinggalkan oleh penghuninya, dia tetap mencoba berdiri diatas pondasinyayang rapuh, berharap sinar mentari selalu menghampiri celah-celah dinding yang sudah merenggang. Namun sang malam selalu menceraikannya dari sang fajar. Memaksa dia berdiam dalam gelam dan sunyinya malam.

Kadang dia harus bertahan sekuat tenaga dalam keterombangan oleh angin, agar dia tidak roboh dalam kerapuhannya. Menahankan kepedihan dinginya malam dan menahan sakitnya sengatan sang mentari. Berharap dia tetap bisa berdiri, menatap sang fajar memberikan sedikit cahaya keteduhan untuk tiangnya yang sudak miring.

Rumah tua hanya bisa menatap dalam diamnya setiap tingkah pola yang melintas dihalamannya. Melihat mereka tertawa dengan senangnya, bersenda gurau memadu kasih. Terkadang itu mengiris hatinya. Tak lagi dia berharap pada sang fajar pagi akan ada yang mau menghuninya. Dia pasrah dalam ketidakberdayaannya. Dia biarkan dukanya malam merenggut sang sinar pagi.

Namun manusia yang berteduh di bawah atapnya dari deraan hujan dan panas tidak pernah mau tahu derita yang harus ditahankan oleh rumah tua. Bila kepentingannya sudah terpenuhi kembali rumah tua ditinggalkan. Tanpa ada ucapan terima kasih atau maaf. Mereka meninggalkan jejak -jejak kepedihan dihalaman yang sudah semak oleh rumput liar. Itulah manusia dengan keegoisannya menghampirinya untuk memenuhi kepentingan mereka saja.

Tidak sadarkah mereka, bahwa tingkah mereka itu menambah kerapuhan pada dinding-dinding yang sudah keropos….?

Hanya seekor kucing yang selalu setia menemaninya, menjalani ketiadaannya. Rumah tua merasa senang. Setidakkannya dia masih berarti meskipun bagi seekor hewan. Dia biarkan sang kucing tertidur lelap dalam pangkuannya lantainya yang lapuk. Dia coba berikan kehangatan dengan senyum sayangnya.

Siluet senja membingkai sejarah kehidupannya dan kabut pagi tabir perjalanannya. Jadilah dia pigura yang digantung pada sang malam. Tanpa suara, tanpa rasa, tanpa warna.

Hening………….. dalam sendu.

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Agustus 2012 in Cerpen

 

Tag: , , ,

6 responses to “RUMAH TUA

  1. ooyi

    8 November 2012 at 7:27 am

    Tetaplah kuat wahai rumah tua. Jgn sampai roboh walau diterpa badai. Jalani hari-harimu dengan penuh warna. Agar suatu saat engkau dapat mengecat kembali dinding hatimu dengan warna ceria.

     
  2. pusat pengobatan herbal

    4 Desember 2012 at 9:22 am

    suka banget komentar bang oyi (y)

     
  3. Anton

    7 November 2013 at 11:40 am

    Jatuh cinta.

    sama tulisannya 🙂

     
  4. Beny Kadir

    6 Januari 2016 at 2:18 pm

    salam jumpa lagi

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: