RSS

Arsip Kategori: Cerpen

RUMAH TUA

Rumah tua mencoba menggantungkan sebuah harapan di tiangnya yang sudah mulai goyah.
Meskipun kini dia telah ditinggalkan oleh penghuninya, dia tetap mencoba berdiri diatas pondasinyayang rapuh, berharap sinar mentari selalu menghampiri celah-celah dinding yang sudah merenggang. Namun sang malam selalu menceraikannya dari sang fajar. Memaksa dia berdiam dalam gelam dan sunyinya malam.

Kadang dia harus bertahan sekuat tenaga dalam keterombangan oleh angin, agar dia tidak roboh dalam kerapuhannya. Menahankan kepedihan dinginya malam dan menahan sakitnya sengatan sang mentari. Berharap dia tetap bisa berdiri, menatap sang fajar memberikan sedikit cahaya keteduhan untuk tiangnya yang sudak miring.

Rumah tua hanya bisa menatap dalam diamnya setiap tingkah pola yang melintas dihalamannya. Melihat mereka tertawa dengan senangnya, bersenda gurau memadu kasih. Terkadang itu mengiris hatinya. Tak lagi dia berharap pada sang fajar pagi akan ada yang mau menghuninya. Dia pasrah dalam ketidakberdayaannya. Dia biarkan dukanya malam merenggut sang sinar pagi.

Namun manusia yang berteduh di bawah atapnya dari deraan hujan dan panas tidak pernah mau tahu derita yang harus ditahankan oleh rumah tua. Bila kepentingannya sudah terpenuhi kembali rumah tua ditinggalkan. Tanpa ada ucapan terima kasih atau maaf. Mereka meninggalkan jejak -jejak kepedihan dihalaman yang sudah semak oleh rumput liar. Itulah manusia dengan keegoisannya menghampirinya untuk memenuhi kepentingan mereka saja.

Tidak sadarkah mereka, bahwa tingkah mereka itu menambah kerapuhan pada dinding-dinding yang sudah keropos….?

Hanya seekor kucing yang selalu setia menemaninya, menjalani ketiadaannya. Rumah tua merasa senang. Setidakkannya dia masih berarti meskipun bagi seekor hewan. Dia biarkan sang kucing tertidur lelap dalam pangkuannya lantainya yang lapuk. Dia coba berikan kehangatan dengan senyum sayangnya.

Siluet senja membingkai sejarah kehidupannya dan kabut pagi tabir perjalanannya. Jadilah dia pigura yang digantung pada sang malam. Tanpa suara, tanpa rasa, tanpa warna.

Hening………….. dalam sendu.

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Agustus 2012 in Cerpen

 

Tag: , , ,

LELAKIKU…………. KENAPA KAU BERJIWA KERDIL…????

Ku akui…. Aku sayang padamu, ku cinta padamu, ku hormat dan kagum padamu sampai hari kemaren. But… now… rasa itu kini sudah berlalu……terhempas oleh kekerdilan jiwamu wahai lelakiku.Terkikis habis tanpa sisa semua perasaan dan hormat serta kagumku pada mu, oleh badai kemunafikan mu.

*Betapa dalamnya kekecewaan Cinta pada lelakinya.

Sadarkah kau wahai lelakiku…

Akan kemunafikan mu dan kekerdilan jiwamu. Dimataku dirimu tidak ada arti dan harganya lagi. Engkau bersembunyi dari manusia atas salahmu, dengan sekuat tenaga kau tutupi semua kejelekan dan kebusukanmu dari manusia. Engkau tak peduli dengan orang lain, kau fitnah seorang wanita, kau adu domba orang dengannya. Hanya untuk memamerkan bahwa kau adalah orang yang baik dan suci di hadapan orang-orang.

*Cinta tak habis pikir atas tindakan yang dilakukan oleh lelakinya, yang sangat kejam pada seorang wanita, hanya demi menyelamatkan nama baiknya dan mukanya di hadapan manusia bukan di hadapan Allah.

Engkau lupa wahai lelakiku…

Bahwa Allah tidak tidur dan buta…..

Dia maha mengetahui semua yang terbetik di hati hamba-Nya.

Apakah masih ada artinya engkau menulis tentang akhlak dan agama.

Apakah masih ada artinya engkau memerangi orang-orang yang berbelok di Jalan Allah.

Apakah masih ada artinya engkau selalu mengatakan “semoga Allah mengampuni dosa kita”.

Semua itu hanya kamusflasi semata dan topeng untuk menutup keburukanmu.

Bila dirimu sendiri tega menzholimi wanita yang tiada daya, dengan fitnahmu yang kejam. Bahkan menghasut orang untuk ikut menzholiminya.

*Bagi Cinta lelakinya lebih mafia dari seorang mafia sejati. Mafia sejati tidak akan melakukan tindakan yang hina terhadap seorang wanita lemah.

Engkau lupa wahai lelakiku….

Bahwa Allah Maha Rahim…..

Dia tidak akan meninggalkan hamba-Nya, yang terzholimi. Yang selalu berusaha bersimpuh dihadapan-Nya dengan segala ketiadadayaannya. Dia Yang Maha Pengasih…. Telah melunakkan dan melemahkan hati orang yang coba kau hasut. Sehingga tiada arti baginya fitnahmu dan hasutanmu.

Allah telah memberikan sedikit rasa sayang-Nya pada hati orang itu, sehingga orang yang kau harapkan akan ikut bersamamu untuk menzholimi wanita itu., malah merasa sayang dan kasihan pada wanita tersebut….

*Bagi Cinta…. lelakinya tidak paham akan kasih sayang Allah yang begitu luas.

Malulah engkau pada Allah wahai lelakiku….

Kemana mukamu akan kau hadapkan lagi…???

Masihkah sanggupkah engkau mengatakan dirimu seorang hamba….???

Bila engkau merasa lebih hebat dari Allah. Allah selalu menutupi aib seorang hamba-Nya….

Sedangkan engkau……?????? membuka aib seseorang.

*Cinta sangat sedih terhadap lelakinya. Kemana keimanannya yang dia agung-agungkan…????

Malulah pada dirimu sendiri wahai lelakiku…..

Kau buka aib seseorang, padahal itu adalah aibmu sendiri yang engkau buka.

Engkau tak ubahnya menepuk tepung dalam dulang, yang kena muka sendiri.

Engkau tak beda dengan buah kedondong…. Yang bagus kelihatannya dari kulit tapi di dalamnya penuh dengan duri yang menusuk kerongkongan. Itulah kamu lelakiku…. Memoles diri biar kelihatan baik di hadapan manusia tapi di hatimu penuh dengan kekerdilan dan kemunafikan.

Beruntunglah kamu wahai lelakiku….

Wanita itu tidak dendam padamu. Dia tidak mau memiliki jiwa kerdil sepertimu. Dia sebenarnya dengan mudah bisa menghancurkan kehidupanmu. Namun itu tidak dia lakukan karena dia tidak mau mengotori hatinya dengan dendam. Dia hanya tersenyum dengan tenang atas apa yang engkau lakukan padanya. Dia ikhlas dan ridho atas kezholimanmu. Semua dia pasrahkan pada Allah…karena dia telah sandarkan jiwa dan hidupnya hanya semata pada Allah. Biarlah pena Allah yang berbicara di atas sutra putih kehidupan. Dia semakin menyadari betapa sayang Allah padanya. Dia tunjukkan siapa engkau sebenarnya padaku wahai lelakiku. Aku kasihan padamu karena betapa kerdilnya jiwamu.

 “Meski engkau telah menzholiminya dia tetap mendoakan mu. Semoga Allah menutup aibmu dan menyadarkan kesalahanmu. Melenyapkan sifat sombong dan angkuhmu. Serta sifat egoismu dan merasa benar sendiri atas tindakan yang kamu ambil dan putuskan.”

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

“Aku salah menilai……orang yang ku anggap berjiwa besar ternyata berjiwa kerdil dan pengecut. Orang yang aku anggap pengecut ternyata berjiwa besar dan berani”, Cinta membatin di dalam hatinya

“Cinta mu tulus dan sejati padaku itu yang selalu kau ucapkan dihadapanku tak lebih dari sebuah kebohongan yang mengendap di dalam tumpukan sampah.” Cinta terhentak di atas kenyataan yang cadas, bahwa betapa munafiknya lelakinya.

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Januari 2012 in Cerpen

 

Tag: , , , , , ,

DI ATAS SAJADAH USANG, CINTA PASRAHKAN HIDUPNYA

Cinta tertunduk, duduk di pojok kamarnya. Dia seakan tak percaya apa yang dia dengar. Hatinya dengan gundah gulana masih menanyakan hal yang sama sejak dia meninggalkan ruang praktek dokter.

Apakah harus….?

Memang haruskah….?

“Ya Allah……” bisik Cinta lirih. Selirih hatinya yang pilu. Selirih gema air mata di pipinya.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
“Sore mba…..mari silahkan duduk.” Sapa dokter dengan senyum ramahnya.

“Apa yang mba rasakan….?”

Cinta menceritakan sakit yang dirasakannya. Dan sudah berapa lama dia mengalami sakit tersebut. Tiba-tiba sang dokter memegang pergelangan tangan Cinta untuk memeriksa denyut nadi Cinta. Cinta kelabakan karena tak terpikir olehnya akan bakal dipegang pergelangan tangannya. Sebenarnya itu adalah pemeriksaan awal yang wajar dan selalu dilakukan oleh seorang dokter sebelum melakukan pemeriksaan selanjutnya. Masalahnya ada di cinta. Sudah 6 bulan ini Cinta tidak mau di sentuh oleh seorang laki-laki yang bukan muhrimnya. Dia selalu berusaha menjaga hal itu.

Dalam keadaan masih bingung sang dokter menyuruh Cinta berbaring untuk melakukan pemeriksaan berikutnya. Dokter memeriksa bagian dada, dan rusuk Cinta. Beberapa kali dokter harus mengulang menyuruh Cinta untuk menarik nafas dan mehembuskannya. Cinta bukan tidak mendengar apa yang disuruh dokter tapi dia tak focus dengan perkataan dokter, hatinya masih dirasukin rasa was-was, takut sang dokter memeriksa dadanya dengan menyingkap bajunya karena untuk mendapatkan data yang akurat.
Akhirnya Cinta bernafas lega dan syukur ketika dokter memeriksa tanpa harus menyingkap baju bagian dadanya.

“Sekarang saya, akan memeriksa bagian perut ya mba…?

“Apa….?” Cinta kembali panas dingin. Memeriksa bagian perut….? Berarti Cinta harus menyingkapkan sedikit baju di bagian perutnya.

“Baik dok, tapi…..”

“Kenapa mba…..?”

“Dokter harus memakai sarung tangan dan disaat dokter memeriksa perut saya, dokter harus tutup mata. “

Dokter tersenyum-senyum mendengar permintaan Cinta, yang terasa aneh baginya. namun sang dokter memakluminya. Dan memenuhi permintaan Cinta.
Cinta tak henti-hentinya menatap sang dokter, bukan karena mudanya, tapi takut kalau-kalau sang dokter membuka matanya saat dia memeriksa perutnya, sambil membatin dalam hati “ Kenapa aku terjebak dengan dokter laki-laki, biasanya di sini bila aku berobat dokternya wanita. Apa mba itu tidak lagi praktek di sini …..?”

“Sudah mba…”

Dengan cepat-cepat Cinta menutup perutnya.

“Sekarang saya mau mba menimbang berat badannya….”
Cinta melangkah ketimbangan.

“Sebelum ini berat badan mba berapa….?”

“65 Kg dok…”

“Hmmm, kapan itu mba?”

“3 bulan yang lalu”

“Berarti dalam 3 bulan ini, berat badan mba turun 7 kilo. Apa mba menjalani diet…?”

“Ga dok, seumur hidup saya ga pernah diet.”

“Hhhmmmm…baiklah, kita lakukan pemeriksaan selanjutnya.”

Setelah selesai serangkaian pemeriksaan dijalani oleh Cinta. Tibalah saatnya Cinta harus mendengarkan keterangan dari dokter tentang sakitnya.Cinta berusaha menenangkan dirinya.

“Mba…… mba sebaiknya harus menjalani operasi…”

“Apa dok….? Operasi….?” Cinta seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya

“Iya mba…. Kalau tidak diangkat mba akan mengalami peradangan. Dan itu akan mengganggu kesehatan mba.”

“Apakah tidak ada jalan lain dok?” tanya Cinta dengan lirih, hampir-hampir dia tak mampu memendung air matanya yang mengalir menumpahkan kesedihan hati Cinta.

Dokter mengerti dengan keterkejutan dan ketidaksiapan Cinta.

“Baiklah mba…. Sekarang untuk sementara saya kasih obat saja dulu dan tolong dihabiskan ya mba, kita lihat angsurannya setelah ini.”

“Mba ….. saya lihat kurang istirahat, jadi saya ingin mba banyak-banyak istirahat. Istirahat badan dan pikiran. Semoga cara ini akan membantu kesembuhan mba.”

“Ya dok….” Sahut Cinta lirih sambil berkata dalam hati, “haaa… andaikan engkau tahu dok apa yang aku alami dalam hidupku. Banyak beban batin yang harus aku pikul dan harus aku uraikan satu demi satu dalam jiwa dan hati ini dengan pikiran yang dituntut untuk tetap waras.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
“Ya Allah haruskah aku menjalani operasi ini …..?’ Cinta masih membantin di pojok kamarnya dengan uraian air mata membias kebingungan.

Perlahan Cinta bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya untuk mengambil wuduk. Dia ingin bertemu dengan Terkasihnya, ingin menumpahkan semua yang dia rasakan, dalam Sujudnya yang dalam dan heningnya zikir. Berharap mendapatkan kekuatan dari Terkasihnya untuk dia tegar. Dan melantunkan ayat-ayat suci dari kalam Ilahi mengharap mendapatkan ketenangan dari Terkasihnya.

Dengan penuh kekusyukan Cinta bercakap-cakap dengan terkasihnya dalam doanya yang panjang.

“Ya Allah…..dengan ketiadaan daya hamba-Mu yang lemah dan sangat hina ini. Datang bersimpuh di pintu-Mu. Mengadukan duka hamba kepada Engkau ya Robby. Bukan hamba tidak bersyukur atas apa yang sudah Engkau gariskan pada hidup hamba. Tapi hamba tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi selain Engkau ya Allah…..”

“Ya Allah…..hamba yang yang tak berdaya dan sangat hina ini memohon kepada Engkau, agar sudi kiranya Engkau memberikan sedikit kekuatan-Mu pada hamba dan sedikit Sabar dan Rido-Mu pada hamba, agar hamba bisa berdiri tegak dan ikhlas menerima ujian berikutnya dari-Mu.”

“Ya Allah…..pertemuan hamba dengan ibunda yang hanya beberapa jam pada waktu yang lalu, telah membuat hati hamba terenyuh dan menangis. Disaat hamba lihat betapa beliau susah untuk melangkah, kaki itu seperti hampir diseret kalau berjalan. Disaat beliau memijit pundak hamba, dengan kasih sayang dan kerinduannya, hamba dapat merasakan tiada lagi tenaga ditangan tua yang keriput itu. Pijitan itu hamba rasakan seperti belaian.
Bagaimana mungkin hamba akan mengabari keadaan hamba kepada beliau. Sungguh ya Allah…. hamba tidak sanggup menambah beban derita beliau, karena sampai detik ini hamba belum bisa berbakti kepada beliau. Belum bisa membalas jasa dan budi beliau yang dengan sabar merawat hamba dari kecil dengan kasih sayang dan cintanya yang begitu tulus dan besar kepada hamba.
Ya Allah…. kalau boleh hamba memohon kepada-Mu, berilah kekuatan dan kesabaran pada ibunda dan ampunilah dosa-dosa beliau serta berilah kesembuhan pada hamba. “

“Ya Allah hamba yang tiada daya upaya dan sangat hina ini, memohon kepada Engkau bukan karena ingin menentang ketentuan Engkau. Karena hamba percaya pada ketentuan Qadha’ dan Qadar. Dan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak akan pernah ada dan terjadi tanpa sepengetahuan, izin dan ketentuan-Mu Ya Allah.
Dan tidak pula hamba ingin ingkar atas perjajian hamba dengan Engkau dahulu sebelum Ruh hamba Engkau turunkan ke alam fana ini.”

“Ya Allah hamba yang lemah dan sangat hina ini memohon kepada Engkau, karena Engkaulah kiblat hamba, tempat hamba kembali nantinya.”

“Ampuni semua dosa-dosa hamba ya Allah……. Aminnnnnnnnnnn…”

Cinta masih menangis sesugukkan di atas sejadah usangnya, dengan badan gemetaran. Dia sangat takut kalau Terkasihnya murka dan meninggalkkannya. Dia sangat takut bila tidak bisa menjadi hamba yang selalu bersyukur dan sabar atas ketentuan Terkasihnya. Ketakutannya ini lebih besar dari pada ketakutannya pada meja operasi.

Tapi Cinta yakin dengan cinta dan kasih kasih sayang yang Agung serta pertolongan dari Terkasihnya.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Desember 2011 in Cerpen

 

Tag: , , , ,

KASMARAN TAK BERTUAN

kasamaran tak bertuanCinta duduk di depan rumah sambil mendengarkan lagu Bebi Romeo Lagu tentang Cinta di temani suara jangkrik, terasa syahdu sekali malam ini. Bulan sabit tersenyum penuh damai, dan bintang-bintang menari dengan kerlap kerlipnya di langit hitam. Menggoda hati insan yang kasmaran.

Cinta tersenyum melihat polahnya bintang yang terus mengodanya dengan sinarnya yang terang redup. Entah kenapa hati Cinta merasakan jatuh cinta dan rindu yang teramat sangat. Tapi dia bingung, tidak tahu jatuh cinta pada siapa dan rindu pada siapa. Yang dia tahu bahwa hatinya saat ini dilanda badai asmara yang tak bermuara.

Kepada siapa dia akan labuhkan hati yang tak bertuan ini………..

Tak satupun lelaki yang mampu membuat hatinya tergoda.

Tapi kenapa dia bisa jatuh cinta dan rindu…?

Inikah yang dikatakan Kasmaran Tak Bertuan.

Kepada siapakah dia jatuh cinta …???

Dan untuk siapakah rindu ini …???

Bila hatinya tak mampu untuk menerima kehadiran sosok seorang laki-laki …..

Cinta tak sanggup lagi bila suatu saat hatinya akan hancur lagi ….

Tertipu oleh kepalsuan cinta …..

Terpedaya oleh kasih sayang tak tak pernah tulus padanya ….

“Biarlah ….. Kasmaran tak bertuan ini aku nikmati di dalam hati,” batin Cinta merintih sayu, sambil memperhatikan asap cigar yang meliuk-liuk di udara malam. Membentuk lingkaran kehidupan Cinta yang penuh onak dan gelombang.

Jangkrik menenangkan hati Cinta dengan melodi syahdu tentang cinta.

Rembulan tersenyum pada Cinta, mengantarkan nyanyian lagu tentang cinta.

Bintang menari dengan lincahnya, menghibur Cinta dengan iringan melodi tentang  cinta…

Cinta tersenyum………. Senyum kasmarannya yang tak bertuan. Untuk Sang Dewi malam dengan seluit cintanya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Desember 2011 in Cerpen

 

Tag: , ,

RINTIHAN HARAPAN SANG PIPIT

terluka dan deritaTerasa begitu pedih disaat sang pipit menemukan kenyataan bahwa dia ditakdirkan kembali sendiri dalam mengarungi gelombang dan hantaman tajam hidup.

Disaat induk burung Dara bercanda dengan anak, dan Kesturi memadu kasih di semak-semak rumput ilalang, Sang Pipit kecil hanya diam terpaku di dalam sangkarnya. Mendengarkan celoteh mereka di atas dahan  dan di sarang  mereka dengan hati yang sangat miris. Sementara pipit yang lemah  di hadang oleh dilema di dalam hidupnya. Sang Pipit  mencoba  larikan duka hatinya dengan membuka hati pada sang waktu.Pipit berpikir  akan menemukan kebahagian di sana, ternyata sang Pipit salah, yang ditemukan hanyalah ketidak tulusan sebuah cinta dan sayang. Kembali hati sang Pipit tambah terkoyak. Disaat Pipit lemah benar-benar putus asa tak berdaya, datanglah sang Elang menguluran sayapnya, mengajak pipit untuk terbang melintasi angkasa melihat keindahan daratan. Dia tawarkan padanya akan arti kasih sayang yang tulus dalam artian yang sebenarnya.

Sang pipit  sangat bahagia, dalam hati dia berkata ternyata aku masih punya harapan untuk bahagia dalam hidup.Berbagai harapan Sang Elang  janjikan pada pipit yang lemah. Dia tunjukkan pada pipit bagaimana menatap hidup ini. Dia berikan apa yang telah hilang dalam hidup pipit kecil yang lemah.

Dia janjikan sebuah kehidupan bersama untuk mengarungi gunung dan angkasa biru  dengan sikap dan perilakunya pada sang Pipit. Sehingga Pipit  mempunyai semangat untuk menatap hari esoknya. Dia angkat Sang pipit dari ketepurukkannya di lembah yang tak bertuan. Dia jaga dan lindungi si Pipit lemah tak berdaya.  Pipit  benar-benar merasakan burung  yang sangat beruntung di dalam hidupnya. Setelah sekian tahun sang Pipit terjebak dalam pencariaannya.

Semua harapan untuk bisa hidup bahagia di hari tua disandarkan oleh pipit lemah kepada Sang Elang. Dengan harapan yang penuh Pipit langkahkan kaki meniti lembaran baru kehidupan ini….

TAPI……………………………………………

Semua harapan Pipit itu hanya sebatas mimpi.

Kini Pipit terjebak kembali dalam kepedihan hidup yang sangat dalam. Melebihi kepedihan Pipit yang terdahulu. Hanya berselang beberapa waktu sang Elang mengucapkan akan memberikan harapan untuk tetap mendampingi pipit lemah. Dengan tiba-tiba Sang Elang  renggut semua harapan yang telah dia semaikan di dalam hati Pipit. Pipit hanya bisa diam temanggu di atas ranting yang rapuh. Untuk menanggis Pipit  sudah tidak mampu lagi karena teramat sakit yang dia rasa. Dengan kekuasan dan keperkasaan yang dimiliki oleh Elang, dia hancurkan harapan Sang Pipit yang lemah . Berbagai alasan dia ucapkan untuk merenggut harapan dan kebahagian Si Pipit kecil. Alasan yang membuat si Pipit tidak mampu untuk membantahnya. Akhirnya Pipit pasrah dengan semua itu. Dia coba balut pedihnya dengan diam. Dihati Pipit berkata ternyata kebahagian itu bukan milikku. Pipit kini sadar kalau dia hanyalah burung kecil yang tiada arti, yang selalu dibenci oleh para petani, karena memetik padi yang mulai menguning di sawah.

Apalagi di saat sang Elang  bercerita tentang Nuri yang Elok rupa dan anggun. Semakin terpojoklah Pipit. Semakin benar-benar tertututp rapat harapan itu. Pipit melihat tidak ada sedikipun celah lagi untuk dia bisa bersama sang Elang. Celah-celah itu sudah ditutup sangat rapat sekali oleh Sang Elang. Malam itu Pipit  menangis tersedu-sedu. Luka itu bukan bertambah lebar lagi tapi hati ini sudah benar-benar hancur. Mulut ini hanya bisa mengucapkan lirih kenapa kamu begitu kejam sama ku Elang. Tidak tahukah kamu betapa rindunya hati ini pada mu. Betapa sepi dan sunyi hidupku kini. tidak tahukah kamu betapa gamangnya aku kehilangan semua ini dengan sangat tiba-tiba. Kumerindukan dekapanmu, ku merindukan belaianmu, ku merindukan pelukakanmu. Ingin ku menangis dalam pelukanmu. Menumpahkah semua pedih dan perih yang menyesak di dalam dada ini. Tapi itu aku paksa kubur Elang. Tidak sekalipun ku ucapkan padamu.

Dalam kebingungan Pipit coba untuk tegar. Tapi perkataan Sang Elang selalu menggema di antara apitan terjalnya jurung. “Dukungannya yg kunanti agar aku bisa kembali,tapi yg kudapat malah sakit hati. Kalau sampai kali ini dia masih seperti itu,berarti dia yang dulu menyemangatiku memang benar-benar telah hilang”.     Pipit  bingung kenapa sang Elang menuntut dia untuk menyemangati dia. Bukankah Sang Elang tahu kalau dia adalah Pipit kecil yang lemah yang membutuhkan  dukungan dan semangat dari Sang Elang. Agar dia benar-benar bisa kembali terbang dan berkicau ceria seperti dulu. Bukankah aku sudah mengatakan bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Aku … Si Pipit kecil yang tak berdaya terperangkap dalam sunyi dan sepi. Terpenjara oleh sangkar kepedihan, kesedihan, luka dan keterpurukan dalam hidup. Bukankah Sang Elang tahu kalau sayapku sudah patah sebelah.

Disaat Sang Elang  ungkapkan alasan untuk merenggut kebahagian Pipit. Pipit hanya mampu mengucapkan kata “Maafkan Pipit Elang  yang sudah menjerumuskan mu dalam kesusahan, kembalilah kekehidupanmu”…………..

“Jangan pikirkan cinta diantara kita. Pergilah terbang melalang buana, menjelajahi daratan demi daratan. Biar saja yangg pernah terjadi pada kita menjadi album kenangan.”

Sang Elang tidak tahu betapa sedih dan perih hati Sang Pipit, disaat harus menuliskan kata-kata itu. Mungkin Sang Elang berpikir betapa gampangnya Pipit mengucapkan itu. Padahal Pipit menuliskan itu dalam keadaan menangis dan sangat terpuruk, merasa hina dan rendah diri. Pipit menutupi kelemahannya, dia coba munculkan ketegarannya di hadapan sang Elang. Dengan maksud supaya Elang tetap merasa bebas dan lega terlepas dari sang Pipit. Dan meraih semua keinginanya. Sang Pipit  kubur harapan dan kebahagiannya. Dia biarkan hati ini terluka. Kerena dia tahu, bahwa  dia bukanlah burung Nuri yang elok rupa. Dia hanyalah seekor Pipit kecil yang memiliki sayap kecil yang kusam dan patah. Pipit sadar dia tak pantas menemani sang Elang yang memiliki sayap lebar dan indah untuk melalang buana menjelajahi belahan demi belahan benua kehidupan. Aku bukan burung yang elok rupa dan aku harus mundur biar tidak menjadi penghalang dia dalam mencapai tujuannya. Biarlah dia berbahagia bersama burung Nuri yang cantik dan anggun. Aku hanyalah sebatas banyangan dan kini sudah waktunya bayangan itu hilang, walaupun betapa besarnya hasrat hati sang Pipit ingin hidup berdampingan dengan sang Elang dalam mengarungi bukit-bukit dan lembah-lembah kehidupan, namun bayangan tetaplah bayangan yang akan sirna bersama hilangnya sinar.

Pipit tidak marah pada sang Elang . Sekian lama dalam hidup Pipit baru  kali ini dia tidak mampu membagi sayangnya pada pejantan lain selain diri sang Elang. Pipit bahagia bisa memberikan kasih sayangnya pada sang Elang. Meskipun kini itu sudah tidak berarti lagi bagi Sang Elang. Pipit ikhlas, sang Elang mengambil kembali kebahagian yang pernah dia semaikan dulu. Semoga sang Elang berbahagia selalu bersama Nurinya yang elok rupa. Dan semoga Allah selalu melindungi kalian berdua.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 14 Desember 2011 in Cerpen

 

Tag: , , , , ,

SANG DEWI DAN TUWIT KECIL

SANG DEWI MALAMNapasmu….telah membawa aku jauh….terdampar di Pulau pengasingan tak berpenghuni. Hanya burung-burung kecil dan pelikan yang meliuk-liuk di atas ombak itu. Kulihat engkau…duduk dibawah pohon berjejer..sambil tunduk bermain-main dengan pasir…

hmmm…sesak rasanya memendam kerinduan…seakan kata tanpa makna….oh napasku…desahmu kudengar lelah….terbawa bersama kicauan burung kecil itu…yang bertengger di atas batu karang.

Burung itu berwarna hitam…mengkilap terpantul matahari.
Diparuhnya ada sebatang ranting….aku melihat engkau mendekat…

Hendak kemanakah kau…sahabatku…burung kecilku?
Oooo…ternyata dia bisa menjawab..dengan suara desahan napasnya pula….hendak kubawa ranting kecil ini di sarangku….
Oooo…buat apa wahai Tuwit kecilku? bertanya Sang Dewi yang terdampar…
Kubawa untuk menguatkan sarangku….

Burung kecil kembali bertanya.”ada apa gerangan Sang Dewi sampai kesini?
Bukankah ini pulau terasing?

Sang Dewi menghempaskan napas panjangnya…huufffffffffff….. aku……..(sang dewi menarik napas dalam-dalam…)….kemudian menjawab….”lelah”
Oooo…begitu yaa….kenapa lelah ? bukankah engkau Sang Dewi yang selalu melantunkan lagu mengiringi ombak ini? buat kami?

Yaaa….aku lelah…..kesepian….

Oooo…..kenapa bersedih wahai Sang Dewi? tanya Tuwit kecil itu..menghibur Sang Dewi
Bukankah ombakmu tak pernah berhenti untuk kami?

Sang burung memanggil-manggil Sang Dewi…sambil menghiburnya…hmmm. Burung kecil itu meliuk-liuk kepalanya…sambil menatap wajah Sang Dewi yg tertunduk lelah….

Dewi…..
Ya……

Syukurlah…pikir Tuwit kecil ini. Ternyata Sang Dewi tidak tidur…dia hanya lelah….
Bertanyalah sang burung….rindukah wahai engkau Sang Dewi?
Rindu yang tak akan tergoreskan oleh tinta pujangga.

Ceritakanlah tentang ombak pada kami..Dewi bukankah surga lautan adalah tugasmu?
bukankah engkau yang selalu menghampiri kami…dikala kami mencari makan untuk anak-anak kami?
Benar…aku selalu menyapamu dikala pagi dan petang, dikala siang dan malam.

Tapi…………kenapa harus lelah? tanya sang burung…
Lelah…. badan nii..rasanya pegel-pegal… mau rebahan…tidak bisa.

Burung itupun tertawa terbahak-bahak…

Dewi…Dewi…..kenapa Sang Dewi bisa lelah yaah?
Aku saja…buat sarang ini tidak lelah….paling- paling pegel dikit…

Udah-udah…Tuwit…aku malas bicara…aku hanya mau bicara lewat suara alam….
Oooo…begitu masalahnya….Tuwit menggeleng-geleng kepala….

Aku hanya mau bicara dengan penghuni pantai ini…bahwa aku lelah…
Kenapa …..tidak katakan pada laut tentang lelah mu wahai Sang Dewi….?

Kita bermain pasir yuuuk…Tuwit kecil mengoda Sang Dewi dengan rayuan sayapnya…
Sambil kita cari siput-siput kecil…..
Baiklah kita lari-lari kecil..saja….

Akhirnya Sang Dewi dan Tuwit kecil ini berlari-lari kegirangan. Kulihat…kaki mereka menginjak-nginjak sempadan pantai nan elok….asyik bersiram-siram…
Deburan ombak memecah keriangan mereka…seakan ikut tertawa lepas…bersama keduanya…
Aku bebaaaaaas…..aku lepaasssss……
lepas dari lelahku…….aku mau mandiiiiiiiii……
Tuwit kecil pun tertawa lepas….senang dan bergembira menyaksikan Sang Dewi akhirnya tersenyum riang….

Dewiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………….
Dewiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………..

Kemudian mereka berbaring diatas pasir..menatap langit tak berawan…sambil bersiul…phu phu phu
keduanya bersiul….menatap langit…awan bergerak-gerak
angin berjoget ria menghempaskan pasir-pasir
hmmmm…..bentangan pantai yang basah ini…terasa menyejukkan….(Sang Dewi melepas napas panjang…sambil menutup matanya)….

ohhh…..angin….kuingat sebuah nama….bawalah dia dalam mimpiku
angin, langit, awan….engkau tahu…..aku hanyalah Dewi….bukan Sang Dewi….
aku hanya manusia biasa….yg hanya bisa melantunkan lagu untuk ombak ini
aku hanya manusia….yang hanya bisa mengantarkan rindu pada daun-daun pantai….

Hmmmm……aku bukan Sang Dewi….anginku…aku hanya seorang wanita…..
Lama Dewi termangu……tertidur dikala angin sepoi-sepoi meniup wajahnya….

Akhirnya dia tertidur….lama tertidur….diatas pelepah pasir basah…yg berdesir-desir membelai…
Sang burung pun…menemaninya….menghantarkan tidur Sang Dewi pada alamnya….
Biarlah dia tertidur…..biarlah air hempasan ombak membasahi wajahnya….
Agar ia merasa nyaman dalam buaian kasih….
Biarlah tuk sekali ini burung…awan…angin….laut…karang membelainya…..menenangkan hatinya…

Selamat tidur…Sang Dewi….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Agustus 2011 in Cerpen

 

Tag: , , , ,

Cerpen: LARA HATI YANG SUNYI bag 13

“Buka aja, kamu akan tahu isinya Asti.” suruh Sri
Perlahan ku buka kado mungil bermotifkan bunga mawar itu.
“Ahhhh….!!!!!!!!” Aku sangat terkejut dengan apa yang ada dalam kado itu. Sebuah kunci dan sebuah sertifikat. Dengan cepat-cepat ku buka amplop yang berisi kartu ucapan selamat ulang tahun. Disitu tertera beberapa kalimat.

“Selamat Ulang Tahun adeku sayang, yang super manja. Mas harap dengan berkurangnya umur ade akan membuat ade semakin bertabah bijak dalam menyikapi hidup ini. Mas hanya bisa memberikan sebuah kunci munggil ini, di hari ulang tahun mu. Semoga ade senang dan mau menerimanya. Mungkin disaat ade menerima hadiah dari mas, mas sudah tidak bisa lagi mendampingi ade. Tapi kasih sayang mas akan selalu mendampingi ade dalam meniti hidup ini. Ade selalu ada di hati mas selamanya, mas akan mencintai dan menyayangi ade di dalam hati. Jangan lagi suka bersedih, tataplah hari esok dengan penuh semangat. Buanglah semua lara hati yang sunyi.”

Kecupan sayang
Mas mu,

“ZIM”

Tak terasa air mataku menetes di pipi. Aku tertunduk sambil menahan isak. Kembali kenangan bersama mas Zim di waktu kami masih saling menyayangi dan bersama menyesakkan hati ini. Tiba-tiba hati ini tidak lagi bisa membendung rasa rindu di hati ini. Rasa yang selalu ku abaikan dengan sekuat tenagaku. Dimanakah kamu kini mas? Kenapa bukan dirimu yang hadir di hari istimewaku ini? Aku akan lebih bahagia bila engkau yang datang walaupun tanpa hadiah. Kenapa mas…. Kenapa…engkau justru mewakilkan dirimu hanya lewat hadiah dan kartu ucapan ini. Dan itupun diantarkan oleh orang lain. Kenapa mas….. kenapa…..???? Rintahanku di dalam hati.
Sri memelukku dengan lembut.
Dengan masih terisak-isak, aku bertanya pada Sri.
“Dimana mas Zim, Sri?.. bagaimana keadaannya kini???”
Sri tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku tapi semakin erat memelukku. Kurasakan ada air yang menetes di atas pundakku. Ternyata Sri ikut menangis.
“Tabahkan hatimu ya Asti….” Sahut Sri di sela tangisnya.
Tiba-tiba ku lepaskan diriku dari pelukan Sri.
“Apa maksud mu, Sri…???”
Dan kulihat Rani juga ga bisa memendung air matanya dan tiba-tiba memelukku. Ada apa lagi ini? Kenapa mereka berdua ikut-ikutan menangis. Bahkan isak mereka melebihi isakku. Ada apakah sebenarnya??? Apakah yang terjadi? Apakah ini menyangkut mas Zim? Ada apakah dengan mas Zim?? Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati ini tapi tak satupun jawabannya ku dapat dari mereka berdua. Membuat kesabaran ku habis dan bingung yang tak dapat ku katakan lagi.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2011 in Cerpen

 

Tag: , ,