RSS

Arsip Kategori: Puisi

BATAS RASA

Janganlah kau coba usik diamnya sang lembayung di bibir senja…
Dan jangan pula kau coba buyarkan kabut tipis di kaki lembah…
Bila kau tak mengerti……….
Dengan semua kegetiran dan kepahitan dari madu rayuan sang pecinta

Biarkan kenangan berdiam di tamarangnya rembulan….
Tak usah kau coba uraikan dengan sang fajar pagi…
Bila kau tak mampu untuk merajutnya….

Ketika tangan tak bisa meraba biarkan hati yang menyentuh….
Jangan paksa semu menjadi nyata….
Jangan ubah rasa menjadi warna….
Biarkan yang ada tetap ada….
————————————————————————————————–
*alunan cadas kopi jantan hitam

Iklan
 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Februari 2012 in Puisi

 

Tag: , , , , ,

BINGUNG … ?!

Bingung ………???!!!

Kenapa pikiran dan hati tidak bisa akur,

Malah saling mencari kesempatan utk berbohong

Ketika pikiran berbicara hati berusaha utk mengingkari

Begitu juga………

Ketika hati berbicara pikiran mencoba untuk mengingkari

Membuat mulut bingung memilih untuk menterjemahakannya

Dalam bentuk bunyi yang berirama

Mengungkapkan rasa, bentuk dan makna serta warna

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Desember 2011 in Puisi

 

Tag: , , , , , ,

PERDAMAIAN UNTUK SANG DEWI

Kau coba tawarkan perdamaian
Bukan aku tak mau berdamai
Perdamaian itu atas kepentinganmu
Bukan atas nama cinta dan sayang

Aku butuh perdamaian atas cinta dan sayang
Cinta dan sayang yang pernah kita rajut
Dirajut dengan pengorbanan sayang
Dirajut dengan keringat asmara

Perdamaian yang ku inginkan
Bukan untuk kepentinganmu
Tak akan ada perdamaian
Untuk kepentinganmu

Perdamaian yang ku inginkan
Bukan atas hasratmu
Tak akan ada perdamaian
Untuk hasratmu

Perdamaian yang ku inginkan
Bukan untuk keselamatanmu
Tak akan ada perdapaian
untuk keselamatanmu

Perdamaian yang ku inginkan
Perdamaian dengan kenangan malam dan siang

Kenangan siang yang membahana
Dengan cahaya sayang di setiap sisi ruang rumah
Kenangan malam yang bergemelapan
Di atas peraduan cinta yang bergelora

Perdamaian yang ku inginkan
Atas nama anakku dan anakmu
Tercipta karena gelora asmara dan cinta
Yang hadir karena curahan kasih dan sayang

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2011 in Puisi

 

Tag: , , ,

SANG DEWI MENYAMBUT PERANG

Laksamana WanitaGenderang perang telah kau bunyikan
Membahana di seluruh jiwaku
Bendera permusuhan telah kau kibarkan
Menari – nari di setiap sisi sukmaku

Tak akan ku mundur
Tak akan ku lari
Aku bukanlah pengecut
Aku bukanlah pecundang

Nyawa dan raga ini aku pertaruhkan
Biarpun mati di medan perang
Itu lebih terhomat bagiku
Daripada aku hidup
Tapi bersembunyi dalam kepengecutanku

Aku bukanlah seorang laksamana
Aku bukanlah seorang panglima
Aku juga bukan seorang prajurit

Tapi aku adalah seorang wanita lemah
Lemah dalam ketidakberdayaanku
Lemah dalam kesendirianku

Namun tak berarti aku tidak memiliki sebuah harapan

Aku maju kemedan perang
Menghadang berbagai taktikmu

Aku maju ke medan perang
Berbekalkan sebuah senjata

Aku maju ke medan perang
Untuk mengungkapkan sebuah kebenaran

Hidup atau mati
Itulah konsekwensiku
Maju ke medan perang

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2011 in Puisi

 

Tag: , ,

ORANG BAYANGAN SANG DEWI

Wahai orang bayangan……
Bawalah daku ke alam bayangan mu
Meramu asmara di atas ketulusan teratai kuning
Mengukir cinta dalam ayuanan rangkaian mawar biru
Menjalin kasih dengan melati putih kejujuran
Menguntai sayang bersama kamboja ungu kepedulian

Wahai orang bayangan ……
Biarkanlah alam mu menjadi alam ku juga
Bersemayam di sana di batu nisan tua kelabu
Menjadi permaisuri di mahligai kegelapanmu yang murni
Bertahta di singgasana mutiara hatimu yang terselubung lumpur hitam

Wahai orang bayangan……
Alam banyanagnmu begitu elok dan damai
Kan ku ukir tamanmu dengan kenangan kisah hidupku
Agar tiada duka dan lara mengiringi langkah kakiku
Tak ingin ku tengelam dalam lautan air mata yang tiada berkesudahan

Wahai orang bayangan…..
Engkau setia menemani malamku yang tiada bintang dan bulan
Lembut jemarimu membelai rambut kusan abu – abu
Bisikanmu menenangkan jiwa porak poranda oleh dusta dan kepalsuan
Pengertianmu memberikan kebahagian sesaat pada bathin yang tiada berbingkai

Wahai orang banyangan….
Akankah selamanya kita terpisah oleh dunia
Yang memiliki dua dimensi yang berbeda

Wahai orang bayangan…..
Ulurkanlah tangan kekarmu
Agar ku dapat menggapai alam bayanganmu
Bersamamu selamanya di sana dalam keabadian yang tak bertepi

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 26 September 2011 in Puisi

 

Tag: , ,

SANG DEWI

Sang Dewi

      Ketika aku sampai di pantai, kabut dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis. Aku melihat ombak yang berdeburan.

Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak.

kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir Sang Dewi dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.

 

    oooo….aku memandang sang garudeya..menatap tajam kearah langit…kulihat dia duduk menghempas-hempas ekornya….bergelantung Sang Dewi rembulan…berjalan melintasi awan…hmmm. di lengannya…terisi air kehidupan…jatuh tercecer ke tanah bumi….mengibas-ngibas bagaikan selendang warna – warni bidadari. mereka berdua..dalam museum kehidupan. tempat segala cerita hidup menyatu. Sang Dewi takjud…melihat hempasan kuat garuda perkasa…menghantam badai hitam.

Maka cobalah tinjau, di setiap kemabukan. yang dikeramatkan hati pada cinta, lihatlah kemilau senja ini dari nanar sembilu yang kau ramu dalam anggurku. matahari terbakar sebab takdirnya
api, takdirku terbakar sebab cintamu. aku terduduk pongah dalam desiran sang buih menatap sepi…berlalu lantah. ooo..Sang Dewi Senja…hatimu begitu tegar….hadapi masa..kau sinari kami dalam teduh menyapa mimpi menyambut malam…


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 September 2011 in Puisi

 

Tag: ,

DIAM SANG DEWI

Terlalu banyak huruf-huruf merangkai kata – kata
Menghadirkan kalimat demi kalimat
Berhamburan bagaikan serpihan debu
Dari mulut yang tak bisa diminta tanggung jawabnya

Ku pilih diam bukan karena aku bisu
Tapi terlalu lelah telingaku
Menerima kalimat demi kalimat yang tak ada realitanya

Bicaralah seperlunya
Biar mampu ku cerna dan pahami
Jangan lagi mengobral kalimat demi kalimat padaku
Aku sudah tak sanggup lagi membelinya

Biarkan aku dalam diamku
Jangan kau usik lagi dengan kalimat – kalimat
Yang menjadi hiasan bibirmu

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 19 September 2011 in Puisi

 

Tag: , , ,