RSS

Arsip Kategori: Renunganku

KEPADA APA

Untak apa merangkai kata, bila huruf kehilangan barisan

Untuk apa menyesal bila luka telah bertitah

Untuk apa memahami bila tak bermakna

Untuk apa mengeluh bila tiada arti

Untuk apa mencaci bila hina

Untuk apa berdalih bila bias

Untuk apa merenung bila tak sadar

Untuk apa bersembunyi bila tak tertutupi

Untuk apa menangis bila keindahan tersenyum

Untuk apa bertanya bila jawaban bersemayam di dalam hati

Iklan
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Januari 2012 in Renunganku

 

Tag: , ,

DALAM KU BERMUHASABAH: YASIN… UNTUK OJEK LANGGANANKU

Di dalam metromini aku hanya mampu termangu diam, seakan tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Benarkah semua ini atau hanya mimpi..????
Tidak… ini bukan mimpi tapi ini adalah kenyataan..
Pak Dayat…….
Dua minggu aku tidak ada bertemu dengan beliau.

Aku celengak celinguk mecari pak Dayat di tempat biasa dia mangkal. Tapi tidak juga ku lihat dia di sana. Aahhh….. mungkin dia lagi ngantarkan langganan yang lain pikirku. Tiba-tiba seseorang nawarkan ojek padaku.
‘Iya… tapi aku lagi cari Pak Dayat”
“Pak Dayat….???????”
“Iya…….” Jawabku bingung. Kenapa jawaban orang ini terasa aneh bagiku. Biasanya dia akan langsung bilang kalau pak Dayat lagi mengantarkan langganannya yang lain bila beliau tidak ada ditempatatau bilang beliau tidak ngojek.

Pak Dayat adalah ojek langgananku. Beliau orangnya sudah berumur hamper 60 tahun, tetapi badannya masih sigap. Beliau tukang ojek yang mempunyai banyak langganan. Mulai dari yang muda sampai yang tua. Laki-laki dan perempuan. Beliau orangnya sopan dan selalu ceria. Mungkin itu yang membuat orang senang memakai jasanya. Beliau selalu memperlakukan langganannya seperti anggota keluarganya.

“Pak Dayat sudah meninggal mba.”
“Apa…..???”
“Pak Dayat sudah meninggal.”
“Bang saya serius… apa pak Dayat ga ngojek hari ini. Atau lagi ngantarkan langganan yang lain??”
“Pak Dayat sudah meninggal mbaaa…….”
“Jangan bercanda bang…yang benar aja.”
“Benar mba… buat apa saya nyumpahi teman sendiri.”
“Yang benar bang…?”
“Ya si mba ga percaya ma saya.”
“Bro sini deh..” tukang ojek itu memanggil temannya
“Pak Dayat sudah meninggalkan? Masa si mba ini ga percaya. Bilang saya bercanda.”
“Iya mba… Pak Dayat sudah ga ada.”
“Benarkah…??”
“Benar…. Sudah dua minggu beliau meninggal.”
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…” hanya itu yang mampu aku ucapkan.
“Mari saya aja yang ngantar mba.”
“Makasih bang saya naik angkutan umum saja.”
Antar percaya dan tidak akhirnya aku menstop angkutan umum. Di dalam mobil aku yakinkan diriku bahwa yang aku dengar itu adalah kenyataan bukan mimpi. Dengan susah payah ku bendung air mata ini biar tidak mengalir disela-sela pipiku.
Klu intip senyum mentari disela-sela kaca mobil. Hanya sebuah mendung yang kutemukan disana. Sebuah lorong hampa dan abu-abu…
Kehilangan yang begitu mengiris kurasakan….

Pak Dayat tukang ojek yang berbeda dengan tukang ojek yang lain yang aku kenal. Beliau memiliki etika yang baik, berpakai selalu rapi dan berbicara sopan. Beliau juga tukang ojek yang selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan langganannya. Tidak pernah menagih ongkos yang kelewatan alias mencekik kantong penumpang. Pernah ada suatu kejadian yang membuat aku terharut. Waktu itu ada pengendara motor yang mencoba menyelip beliau dari sebelah kiri tapi pengendara itu salah perhitungan sehingga menyenggolku. Pak Dayat marah bukan main pada pengendara motor itu. Padahal beberapa hari yang lalu tangan beliau pernah kesenggol sama TV penumpang penggendar motor yang lain. Tapi beliau hanya bilang hati-hati itu berbahaya sama penumpang pengendara motor. Begitulah pak Dayat selalu menjaga keselamatan penumpangnya.

Selama aku jadi langganan beliau banyak pituah hidup dan cerita-cerita tentang Jakarta tempo dulu bahkan masalah politik, padahal aku bukanlah orang yang suka bicara politik. Dia juga senang bercerita tentang anak-anak dan kehidupannya mulai dari masih muda sampai sekarang. Oh ya yang sangat berkesan bagiku adalah dia selalu memuji istrinya. Kecantikan istrinya dan kebaikan istrinya. Tak ada satupun keluhan tentang istri dan anak-anaknya yang keluar dari mulutnya.
Beliau juga perhatian sama penumpangnya. Itu yang aku rasakan. Beliau selalu tahu keadaan kondisi badanku. Apakah aku kecapek-an atau sakit. Padahal aku selalu sembunyikan kondisi badanku, tapi dia selalu tahu dan bertanya. Menyuruhku minum obat dan menunjukkan ramuan tradisional yang baik untuk kondisi badanku serta menasehati jangan terlalu lelah kalau bekerja.
Pak Dayat engkau seperti orang tua bagiku. Disaat aku jauh dari orang tuaku.

Dua minggu yang lalu ternyata adalah pertemuan yang terakhir aku dengan engkau.
“Cari Pak Dayat mba?”
“iya..’
“Beliau lagi ngantarkan orang.”
“Oh…” akhirnya ku putuskan naik bus kota aja.
“Pak dicari ma si mba.”
“Mana…”
“Itu lagi berdiri disana.”
Pak Dayat menghampiriku.
“Mau kemana?”
“Ke Depok Pak. Bisa ga bapak ngantarkan saya ke halte dekat Utan Kayu?”
“Loh ko ke Depok nunggu mobil di sana. Dari sini aja, ada mobil langsung ko.”
“Saya janjian ma teman di sana untuk bareng-bareng ke Depok.”
“Oo.. kalau gitu naik mobil 41 aja.”
Tak lama mobil 41 lewat. Dengan sigap pak Dayat menstop mobil tersebut. Beliau menungguin aku naik mobil sambil berpesan hati-hati. Ku lihat Pak Dayat kembali kepangkalan ojek setelah mobil yang aku tumpangi jalan. Sikap pak Dayat itu membuat aku teringat papa. Sikap orang tua yang selalu melindungi putri kecilnya.

Di dalam mobil hatiku bertanya-tanya, kenapa Pak Dayat tidak mau mengantarkan aku kali ini. Padahal dia selalu siap mengantarkan aku kemanapun bila aku minta tolong. Tak pernah beliau menolak meskipun beliau baru memesan kopi atau menyulup rokoknya pasti ditinggalkannya dan memilih mengantarkan ku. Bahkan beliau selalu berpesan bila butuh dia telpon aja.
Tapi kali ini……??? Sudahlah mungkin beliau capek habis mengantarkan orang bantah hatiku.
Ternyata itu adalah isyarat bahwa aku tidak akan lagi bertemu dengan beliau.
Pak Dayat….
Aku akan hanya bisa mengantarkan Yasin buat mu yang telah lebih dahulu memenuhi panggilanNya. Semoga arwahmu tenang disisiNya dan mendapatkan tempat yang lebih baik dari duniamu.
Ya Allah, Ampunilah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya.

~~~~ AMIN ~~~~
……………………………………………………………………………………………………..
Kematian itu tidak perlu dicari atau didahului karena kematian itu sendiri dekat dengan kita. Kematian itu berada sangat dekat di urat nadi dileher kita. Bila sudah habis perjanjian sama Sang Kholiq di dunia ini maka kematian akan datang untuk menjemput kita menghadap sang penguasa alam. Dihadapkan pada persidangan menagih pertanggung jawaban kita selama di dunia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Juni 2011 in Renunganku

 

Tag: ,

DALAM KU BERMUHASABAH: APA MAUMU ……. MY HEART!!!!!!!!!!!

Silahkan kamu berbuat sesukamu… my heart.
Akan aku turuti, apa keinginanmu sampai titik jenuhmu datang.
Bila sudah tiba waktunya akan aku tanyakan apa maumu.

Ku biarkan apa yang ingin diperbuat oleh my heart.
Ku ikuti amarahanmu. Sampai kapan api akan bergelora di heart.
Kuperturutkan kemalasanmu.
Sampai dimana aku sanggup melihat sekelilingku berantakan.
Asal jangan kamu berpaling dariNya.

Biarlah sekarang aku berubah dari man perfect menjadi man super jorok.

Engkau malas untuk mandi tiap hari…
Ok kita mandi 3 hari sekali,
asal jangan kau malas wuduk 5 kali sehari.

Engkau malas untuk keluar… baik aku turuti.
Kita berdiam saja dikamar ini,
asal jangan kau buat kaki malas melangkah ke atas sajadah.

Ternyata kemalasan dan amarahmu telah menghasut mata dan pikiran…….
Kau telah menyiksa sebuah badan….

CUKUPPPPPPPPP!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Cukup sudah waktu 10 hari yang ku berikan padamu my heart.

Sekarang waktunya aku bertanya apa mau.
Engkau diam tak mampu menjawab tanyaku
Betapah gusarnya aku pada mu my heart.

Apa waktu yang ku berikan hanya untuk menghasut pikiran, sehingga dia tetap dalam keruwetan,
tak mampu menemukan sebuah makna????????
Apa waktu yang ku berikan hanya untuk menghasut mata, sehingga dia terjaga sepanjang malam sampai subuh menjelang???????????

Sadarkah kau, telah menyiksa sebuah tubuh……
Sepuluh hari dia tidak bisa memperoleh haknya untuk beristirahat.
Dia tetap sabar mengikuti keinginan mu.
Apa kamu mau jasad itu terbungkus oleh kain kafan ?????????
Sebelum dia berada menemukan sebuah kedamain dari sang Kholiq?????

TIDAKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!………….
Tidak akan aku biarkan itu terjadi.

SEKARANG JAWAB TANYAKU……….,
JANGAN KAMU MEMBEKU WAHAI HATI……..,
JANGAN KAMU MENYUCURKAN AIR WAHAI MATA………,
JANGAN KAMU MENGHADIRKAN KEBINGUNAN WAHAI PIKIRAN………
AKU TAK BUTUH ITU SEMUA……

Aku butuh tujuan dan arah…….
Aku butuh jawaban………

kau tetap tak mampu memberi aku sebuah jawaban,
Maka tak ada lagi waktu untuk kamu mengelorakan api dan mengangungkan malas.

Sudah waktunya aku yang ambil kendali.

Kalau ku bilang sabar dan tegar.….
Kamu harus hening dalam zikir my heart.

Kalau aku bilang tataplah disekelilingmu……..
kamu harus menelusuri setiap jengkal kejadian wahai mata.

Kalau aku bilang merenunglah…
maka kau harus bersyukur dan istighfar wahai pikiran.

Tak akan ku biarkan lagi kalian berkuasa atas badan.
Tak akan kubiarkan badan ini roboh sehingga dia tidak bisa lagi untuk sujud padaNya.
Tak akan ku biarkan jiwa ini masuk kedalam An Naar.

SALAM PANJI PARA BIDADARI

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Juni 2011 in Renunganku

 

Tag: , , , , ,

DALAM KU BERMUHASABAH: PINJAMKAN AKU ANAK PANAH…..UNTUK MEMANAH SUAMI TETANGGAKU…..

“Assalammualaikum…..”terdengar suara seorang wanita mengucapkan salam di depan pintu rumah.
“Waalaikum salam….”
“Oh… mba silahkan masuk.”
Sore itu aku kedatangan tamu. Dia adalah tetanggaku. Begitu ku persilahkan duduk dia langsung membuang nafas panjang. Sepertinya dia lagi kesal terhadap sesuatu hal.
Tiba-tiba dia menyeletuk “ maaf mba…punya anak panah ga. Kalau punya pinjamkan aku.”
Aku ga bisa menahan geliku mendengarkan pertanyaan konyol tetanggaku.
“Hahahaha……punya tu… mau minjam berapa?” candaku sambil menunjukkan sapu lidi.
“Aku benar-benar kesal mba…kesal bangat. Aku ingin memanah suami tetanggaku.”
“Haaa……………….?????”aku terkejut dengar keinginan tetanggaku ini
“Ada apakah sehingga mba ingin memanah orang?????”
“ Apakah yang sudah terjadi….????????”
“Itu lho mba… suami tetanggaku benar-benar sudah kelewatan…ga punya sopan satun… ga punya moralllllllll…” gerutumu
“Masa dia masuk rumahku nyelonong boy gitu saja…. Ga ada permisi, ga ada ucapkan salam. Dan tiba-tiba dia sudah berdiri di pintu kamarku lagi. Aku kaget bukan kepalang mba… mana aku lagi ga pakai jilbab. Aku benar-benar seperti ditelanjangi mba… gerah bangat aku ma tu orang….Dasar hanoman, gajah mungkur, otak udang…………grrrrrrrrrrrrrrr.”
“Kenapa dia bisa berdiri di depan pintu kamar mba?”
“Pintu kamarku ga begitu jauh dari pintu masuk, ya mau bilang apa lagi mba namanya juga ngontrak, ga mungkin kita rubah tu rumah orang?”
“Ohhh…apa mba ga mendengar pintu masuk dibuka orang?”
“Nah itu dia mba…..biasanya pintu selalu saya tutup dan saya kunci, Cuma jendela saja yang saya biarkan terbuka. Hari itu anak-anaknya keluar masuk lewat jendela, kebetulan jendelanya rendah mba. Saya takut anak-anak itu jatuh karena mereka baru berumuran 3 th dan 3,5 th, maka saya bukakan pintu seukuran badan mereka, biar mereka bisa bebas keluar masuk ke rumahku. Bagaiman saya mau larang mereka untuk bermain ke rumah saya namanya juga anak kecil. Pernah saya diam saja waktu mereka manggil-manggil saya… eeee yang ada mereka malah teriak-teriak kaya orang kesurupan dan mukul-mukul pintu.”
“Tapi yang namanya orang tahu sopan santun, menghargai privasi orang, mau pintu orang terbuka selebar apapun atau tertutup, seharusnya dia ucapkan salam atau permisi.”
“Benar mba…”jawabku
“Terus apa reaksi suami mba melihat kejadian itu…? apa dia ga marah dan negur tu orang?”
“Kebetulan hari itu suami saya ga ada di rumah…. Dia lagi pergi ke Tenggerang ngurusin perternak belut di sana.”
“Oooo… Pantasan saya jarang lihat suami mba di rumah rupanya selama ini sering bolak balik Tenggerang ya?”
“Iya…”
“Kenapa mba ga pindah aja ke Tenggerang. Biar mba bisa selalu kumpul ma suami.”
“Untuk saat ini saya belum bisa pindah Tenggerang, karena saya harus menyelesaikan kontrak kerja saya dulu di sini. Kalau kontrak kerja dah habis nanti baru saya pindah ke Tenggerang.”
“Oh ya… masalah tetangga mba yang masuk nyelonong boy itu bagaimana?”
“Ya saya usir dia, saya suruh dia keluar. Mentang-mentang suami saya jarang di rumah dia pikir saya istri kesepian apa???. Dasar dodol Garut. Padahal dia tahu kalau saya nyapu rumah dan pintunya terbuka saya pakai jilbab. Hari itu karena saya di dalam kamar tidur makanya saya ga pakai jilbab. Dasar otak mesum tu orang… benar-benar hanoman.”
“Hmmm…..saya ngerti akan marah mba.”
“Sekarang pintu selalu saya tutup dan kunci, jendela saya buka di pagi hari sampai siang kalau dah jam 4 jendela saya tutup. Karena itulah waktu anak-anaknya keluar bermain. Saya ga perduli anak-anaknya mau teriak-teriak di depan pintu. Dan saya ga lagi begitu ramah sama anak-anaknya. Saya malah cuekin, walaupun hati saya teriris karena anak kecil yang ga berdosa jadi korbannya. Apalagi yang besar suka manja ma saya. Tapi apa mau dibilang daripada saya emosi ga terkendali dan membuat rumah tangga dia ribut.”
“Saya pikir itu yang terakhir dia ganggu saya, eee… ternyata tidak. Karena saya jarang keluar rumah dan pintu selalu tertutup. Dia mendekati saya lewat sms, ada saja alasan dia sms saya. Bilang ada yang mau dibicarakan seriuslah ma saya. Nanya saya sibuklah, nanya saya sakitlah karena dia jarang lihat saya. Padahal selama ini saya juga jarang ketemu ma dia. Tak satupun smsnya saya balas. Malah hp suka saya matikan kalau dah malam. Karena dia kalau sms biasanya istrinya dan anak-anaknya sudah tidur. Saya pikir dia akan diam.. tapi ga tu malah kirim sms lagi. Bilang maaf dah ganggu, lagi sibuk ya. Saya tetap ga balas. Bukannya malu ee malah dia sms lagi nanya kenapa ga dibalas, sibuknya atau dah tidur ya. Saya tetap aja ga balas.”
“Mba ganti nomor aja….”
“Ini dah ganti berapa nomor saya… dulu dia juga gitu malah pakai nelpon segala. Akhirnya saya ganti nomor. Kemaren-maren itu istrinya nanya nomor saya. Ga dikasih gimana yang minta istrinya. Dikasih ya begini dah makan hati. Lagian ini nomor sudah tersebar ke instansi-instansi yang berhubungan dengan kerja saya. Kalau saya ganti lagi terus komfirmasikan ke mereka, mereka tentu bingung kenapa no saya ganti-ganti mulu. Dan betapa capeknya saya kalau harus menghubungi semua no di hp saya untuk ngasih tahu kalau no saya dah ganti.”
“kenapa mba ga ngomongi aja ke suami mba..?”
“Beliau lagi sibuk, apa lagi saya lihat akhir-akhir ini pikirkan beliau agak mumet masalah perternakkan itu. Jadi saya ga mau ganggu dia dulu. Saya coba atasi sendiri.”
“Kalau gitu mba tegur aja langsung orang itu.kalau mba ga suka dengan cara dan sikap dia.”
“Ya…. Kalau dengan diam saya, dia ga berubah saya akan tegur langsung. Maaf ya saya dah merepotkan mba. Dan terima kasih dah mau dengarin gerutu saya. Karena mba saya lihat mba bisa saya jadikan tempat numpahi kekesalan saya dan ga suka nyebar aib orang.”
“Ga apa-apa mba… malah saya senang karena saya mendapatkan sebuah pelajaran dari pengalaman mba. Seharusnya saya yang bilang terima kasih.”
“Mba bisa aja. Saya permisi dulu ya mba, beban saya terasa agak ringan sekarang.”
“Ya mba… tapi apa anak panahnya ga jadi dipinjam mba?” selorohku
“Hahahahaha….kalau sapu lidi mah cuma bisa buat ngusir tikus.”
“Saya pamit ya…..Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam”.

Benarkah saya ga suka nyebar aib orang???? Wong saat ini saya posting di blog ini. Semoga Allah ngampunin saya. Karena niat saya bukan mau mempermalukan saudari saya dengan aibnya. Tapi hanya untuk berbagi pengalaman pada para wanita dan para laki-laki untuk saling menjaga kehormatan diri sendiri dan kehormatan orang lain.

SALAM PANJI PARA BIDADARI

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Juni 2011 in Renunganku

 

Tag: , , ,

DALAM KU BERMUHASABAH: OH ….AISYAH….KU….JADILAH BIDADARI

Tak biasanya Aisyah tiba-tiba muncul menyapaku lewat ruang chat FB. Karena walaupun dia OL dia ga pernah menyapaku lewat ruang chat. Dia biasanya suka menanyakan keadaan ku lewat sms.

“Mba… lagi ngapain?” pertama kali Aisyah menyapaku.
“ga lagi ngapain-ngapain….” Jawabku
“Mba, bagaimana kalau belum mau nikah karena alasannya belum mapan dalam ekonomi?”
Duk !! diriku tersentak dengan pertanyaanmu yang begitu mengejutkan ku Aisyah. Pikiranku langsung melayang tentang teman laki-laki mu.

“Hmmmm…. Aisyahku mapan itu relative… tergantung dari sudut pandangan masing-masing
orang.karena tiap orang memiliki ukuran mapan yang berbeda-beda sayangku”
“Apakah ini berhubungan dengan your boyfriends?”
“Ya… mba…. Aku saat sedang menahan tangis.”
“Dear my sister… don’t you sad…about your love.”
“kalau mba lihat kalian berdua sudah mampu secara ekonomi untuk melangkah ke jenjang
pernikahan, your boyfriends sudah memiliki kerja yang bagus.”
“Iya mba… tapi dia masih mengelak dengan alasana itu-itu mulu disaat aku meminta untuk
menikah. Tahukah kamu mba… teman-teman ku dah pada nikah dan sudah memiliki anak-
anak. Sementara aku…??????? Umurku dah semakin tua mba… saat ini aku sudah berumur
26 th… aku menginginkan sebuah keluarga mba.”

Oohhh… Aisyah tahukah kamu disini saya telah lebih dulu meneteskan air mata begitu membaca tulisanmu yang muncul diruang chatt. Aku sangat memahami bagaimana perasaanmu Aisyah,. Sangat paham… paham dengan rasa sepimu… paham dengan keinginan memiliki teman sejati dalam hidupmu….
Ingin aku off tapi hati kecil ku melarang. Karena sesungguhnya aku ga kuat untuk melanjutkan pembicaraan ini lebih jauh tapi Aisyah ku tetap menemanimu dalam uraian air mata.

“Mba, sikapku yang terlihat konyol dan kanak-kanakkan dalam kelas itu adalah cara aku menutupin rasa duka di hati ini…” oh ya Aisyah adalah teman ku dalam menuntut ilmu. Dia memang paling konyol dan selalu membuat kita-kita pada ketawa dengan kekonyolannya. Tapi aku lihat kadang-kadang dia sering juga termenung sendiri di belakang atau di pojok ruang kelas.

“Aisyah… mba tahu dalam ceria mu itu tersimpan duka, namun mba diam saja. Mba ga mau
memasuki koridor pribadimu. Mba hanya menunggu kamu bicara my sister.”
“Menurut mba, lebih baik kamu berfikir lebih matang lagi tentang your boyfriends, karena mba
lihat laki-laki mu, belum matang dan dewasa dalam menatap hidup ini. Dia masih ingin
bebas menikmati masa mudanya. Tapi mba sarankan Istiqorohlah ”
“iya mba.. lagian dalam Islam tidak ada pacaran.”
“Nah itu kamu tahu.”
“Trus saya harus bagaimana mba?”
“Carilah laki-laki yang dewasa?”
“Cari…????????? Aku sudah ga mau lagi berkenalan dan jalin hubungan dengan laki-laki mba.
Capek dan letih bila aku harus memulai lagi dari awal dengan laki-laki. Oh ya mba laki-laki
dewasa itu seperti apa???”

Pertanyaan Aisyah begitu sulit untuk ku jawab. Setiap orang memiliki kategori yang berbeda dalam laki-laki dewasa.
“Aisyah…. Mba akan jawab sesuai pandangan mba dan pemahaman mba.”
“Ya….”
“laki-laki dewasa menurut mba… laki-laki yang tahu tujuan dan arah hidupnya kemana. Paham
bahwa yang dicari didunia ini hanya ridho Illahi, mampu bertanggung jawab atas apa yg
diperbuatnya, tahu konsekuensinya, mampu bertindak bijak, bisa beradaptasi dan menghargai
orang lain. Dan ini semua harus didukung dengan pemahaman agama yang baik dan
menerapkan dalam kehidupannya. Mampu menjadi iman kita karena kita adalah makmumnya
kelak dalam berumah tangga. Sanggup mengembalikan kita pada kebenaran bila kita
terbelokkan oleh syaitan dari landasan agama. Benar-benar paham akan arti bahwa kita terlahir
dari tulang rusuk kirinya yang bengkok.“
“ Bagaiamana caranya saya menemukan laki-laki seperti itu mba..?”
“Astafirullah… dear my sister… itu bukan dicari….. tapi itu diminta….”
“Diminta…. ???????????”
“Ya… itu kita minta pada Allah dalam sujud malam dan zikir seraya meminta ampunan akan
salah dan silap kita. Aisyah kalau boleh mba tahu apa niat mu nikah karena faktor umur?”
“Ya mba, selain faktor umur saya juga ingin memiliki keturunan.”
“Hmmm…. Kalau Allah tidak memberikan kamu keturunan bagaimana?”
“Saya menargetkan mba kalau dalam 2 tahun saya tidak bisa memberikan keturunan. Saya
sanggup dicerai mba. Saya siap menanggu konsekwensi itu.karena saya ga mau dimadu.”

Astafirullah… sekalai lagi hati ini terhenyak dan terhempas membaca tulisanmu my sister. Aku termangngu di depan computer. Diam tak mampu mengucapkan lagi kata-kata. Bagaikan petir yang menghantam sisi hati ini oleh pernyataan mu itu.

“mba… kenapa diam?????? Apakah itu salah??????”
“Ya dear…. Niatmu itu bagus untuk mendapatkan keturunan, Allah mewajibkan kita nikah bila sudah mampu karena untuk memperbanyak umatnya di bumi yang nanti akan menjadi kalifah-kalifahNya dalam menegakkan DienNya. Tapi mba sungguh terkejut kata cerai mu itu. kenapa sekarang kamu sudah memutuskan akan mengakhiri rumah tangga yang kamu bina. Ingatlah sayang… ucapamu akan diminta buktinya sama Allah. Benar-benarkah kamu mampu untuk membuktikan itu. walaupun cerai itu dihalalkan oleh Allah tapi sangat dibenci Nya. Cerai itu memang gampang Aisyahku, cukup dengan kata talaq dari suamimu dan terus mengurus ke kantor pengadilan agama paling lama 6 bulan akta ceraimu sudah ada ditanganmu. TAPI…. Tahukah kamu my sister akan dampaknya pada bathinmu dan keluarga serta lingkunganmu. Benarkah sanggup kamu menyandang stastus janda, yang setiap langkahmu akan dicurugai oleh lingkunganmu dan kebebasan mu dirampas karena kamu benar-benar harus menjaga sikap dan tinggkah laku. Agar tiada yang mengcap kamu janda genit. Dan tahukah kamu my sister godaan menjadi janda lebih banyak dan berbahaya dibanding ketika kita masih gadis. Dalam benarpun kita orang-orang tetap menatap kita penuh curiga sayangku….”

“Aisyah….menikahlah KARENA ALLAH JANGAN KARENA BERBAGAI HAL… CUMA KERANA ALLAH SEMATA Insya Allah. Allah akan memberikan yang terbaik untukmu… dan kamu akan tegar dalam hadangan badai serta ridho atas qadaNya kelak. Karena kamu sudah menyempurnakan ibadahmu dengan menikah karena Allah, dalam pernikahan akan kita dapatkan pahala-pahala yang mudah untuk kita raih. Tapi dalam niatmu untuk nikah mba melihat betapa kamu tidak paham akan mutiara pahala yang tersimpan disitu.”
“Mba…. Sekarang aku benar-benar menangis ga mampu lagi menahan air mata ini.”
“Don’t cry my sister…..satu pesan mba untuk mu jadilah BIDADARI DI DUNIA UNTUK SUAMI DENGAN KESOLEHAANMU…….JADILAH SEORANG MUJAHIDAH….
.”
“Mba… apakah dengan begitu saya akan mendapatkan ketengan jiwa…?”
“Insya Allah, kamu akan mendapatkan itu Aisyahku bila semua yang kamu lakukan semata-mata karena Allah. Disaat harapan kita terwujud kita bisa menjadi orang yang bersyukur, tapi bila harapan itu tidak terwujud kita tidak akan menjadi orang kufur akan nikmat yang diberikan oleh Allah… malah akan mampu menjadi orang yang tegar karena kita tahu semua itu adalah kuasa Allah.”
Lama sekali Aishya tidak membalas chattku. Dan akhirnya Aisyah off… dalam setiap buliran air mataku, satu harapanku semoga Aisyah mendapatkan jodoh yang baik.

SALAM PANJI PARA BIDADARI

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Juni 2011 in Renunganku

 

Tag: , , , ,

Perjalanan Masih Panjang

Suhu udara begitu dingin, tidak seperti hari biasanya, kalau sudah begini pedagang kopi dan pisang goreng laris manis, sementara tukang es cendol,es dawet pada menelan pil pahit.

Begitulah hidup, selalu bergerak dinamis, tanpa pernah berhenti sedetik pun, datangnya suatu cuaca atau musim akan membawa “berkah” bagi sebagian orang, dan akan berdampak kurang menyenangkan bagi sebagian lainnya. Kadang musibah bagi kita, malah menjadi berkah bagi orang lain.

Kehidupan Akan Menggeser Posisi Kita

Tak ada yang abadi selain Allah, itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan, betapa didunia ini tak ada yang bisa bertahan kekal tanpa perubahan. Ada yang mengibaratkan kehidupan ini seperti sebuah perjalanan, hukum ” jalanan ” pun bisa berlaku. Kita harus terus bergerak maju kalau tidak mau terlindas oleh orang dibelakang kita. Meski lelah kadang mendera, kita harus tetap melangkahkan kaki, istirahat sejenak memang diperlukan, tapi jaangan sampai kita terlena, ingat ! bahwa tujuan kita belum tercapai, perjalanan masih panjang.

Kekayaan, pangkat dan jabatan pun akan selalu berganti pemiliknya. Walau susah payah kita mempertahankannya, kita takkan mampu mempertahankannya, akan tiba saatnya berpisah, entah mereka yang meninggalkan kita, atau kita yang akan menanggalkannya. Itulah sunnatullah (hukum alam), dengan begitu alam akan terjaga dan tidak menjemukan.

Apa Yang  Sesungguhnya Kita Miliki?

Semua yang saat ini ada pada kita akan segera berpindah tangan, maka tak salah jika ada kata bijak ” Sesungguihnya yang kita miliki adalah apa-apa yang telah kita berikan (sedekahkan)”. Kalau sudah begini, masihkah kita akan memeluk erat sifat bakhil,kikir,pelit? masih masa bodohkah kita dengan lingkungan sekitar? kalau kita tidak tergerak “mengulurkan tangan ” untuk meringankan beban hidup orang lain, berpikirlah, bahwa apa yang kita berikan itu manfa’atnya untuk kita sendiri./rh/hda/10

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 25 September 2010 in Renunganku

 

Tag: ,

Apakah Akhirnya Langkah Kita Terhenti Disini?

Harapan akan masa depan yang lebih baik merupakan pendiang dikala hawa dingin kesulitan mendekap jiwa. kehadirannya selalu membangkitkan kembali gairah hidup yang nyaris padam diterpa angin cobaan. Tanpa harapan seorang ibu mungkin akan merasa cukup melahirkan satu kali saja, tanpa harapan, bisa jadi seorang petani sudah merasa cukup punya sekarung gabah. Harapan acap kali menjadi penolong disaat hati mulai goyah menatap masa depan. ia mampu melambungkan kembali asa yang hampir tenggelam diterjang ganasnya badai kehidupan.

Cobaan hidup tak jarang hilang dari ingatan bukan karena terpecahkan, melainkan tertutupi oleh cobaan lainnya yang datang berwujud lebih mengerikan, akhirnya ia pun semakin menumpuk didasar sanubari. Satu belum selesai, datang lagi problem lainnya, begitu terus tanpa pernah mengenal berhenti. Apakah  akhirnya langkah kita terhenti disini? ataukah semua kesulitan itu akan memicu kita agar lebih kreatif dalam mencari solusi?

” Masa depan bukan saja bagaimana kita berpikir untuk maju, tapi juga bagaimana kita akan menjalani situasi yang sering tidak sejalan dengan harapan “.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Februari 2010 in Renunganku

 

Tag: