RSS

“Apa Yang Kita Miliki Telah Melebihi ApaYang Kita Harapkan”

Hampir sebagian besar dari kita tanpa membeda gender (Apakah itu laki-laki atau wanita)  menyukai film KungFu. Bahkan ada yang belajar bela diri yang berasal dari biara Shaolin ini. Begitu terkenalnya bela diri Negara Tirai Bambu ini di dunia. Saat kita menyaksikan film KungFu yang sarat dengan bela diri, kita sering dibuat terpana  oleh gerakan-gerakan indah jurus kungfu tersebut. Bahkan anak kecil atau remaja berhayal bisa menguasai bela diri. Mungkin juga kita para orang dewasa.

Kita telah dibuat lupa, akan pesan yang disampaikan lewat film ini. Karena keindahan dan keelokan dari jurus kungfu tanpa disadari, kita terlena dibuatnya sehingga kita tidak bisa menangkap makna-makna atau pesan-pesan tentang kehidupan yang disampaikan lewat film ini.

 “SHAOLIN” Film ini hampir membuat air mata saya menetes, karena begitu sarat dengan pengorbanan, tapi entah mengapa tiba-tiba seperti ada sesuatu yang datang dari dalam diri saya, mengingatkan saya untuk apa saya menangis toh nanti setelah habis film ini kamu akan lupa tentang kesedihan dan pengorbanan yang ditampilkan dalam film ini. Tapi alangkah baiknya kamu mencoba memahami akan kata-kata bijak tentang  kehidupan yang disampaikannya atau pesan tersirat dari setiap gerakan indah dari jurus-jurus kungfu yang dimainkan tersebut.

Salah satu kata yang sangat bijak dan mengandung makna yang begitu dalam bagi saya dalam film “SHAOLIN” yang dibintangi oleh Andy Lau, Jackie Chan, Nicholas Tse dan Fan Bingbing, adalah “apa yang kita miliki telah melebihi apa yang kita harapkan”.

Yang bisa saya tangkap makna dari kata-kata bijak itu adalah:

1. Syukurilah rezeki yang telah di berikan oleh Allah, baik itu banyak atau sedikit, baik atau kurang baik. Janganlah melihat kepada keberuntungan orang (melihat kehidupan orang yang lebih dari kita) tapi lihatlah kepada orang-orang yang tidak beruntung dibandingkan kita dengan begitu kita akan selalu menjadi orang yang sangat bersyukur. (Bersyukur memberikan ketenangan hati).

2. Janganlah mengeluh dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah/ yang telah ditakdirkan oleh Allah atas diri kita. (Menjalani apa yang menjadi takdir diri dengan ikhlas dan tabah menjadikan kita tegar dan dekat dengan Dia)

3. Berbagi dan peduli terhadap kesusahan orang lain dengan salah satu cara adalah sedekahkan harta yang kita miliki. Karena rezeki orang lain ada ditangan kita  di titipkan oleh Allah. (Salah satu kebahagian hidup adalah disaat harta benda yang kita miliki bahkan diri kita sendiri bisa bermanfaat bagi orang lain dan agama).

Kata itu membuat saya merenung, dan bertanya pada diri sendiri. Apakah saya akan  bisa dan mampu menjalankan hidup seperti kata bijak “apa yang kita miliki telah melebihi apa yang kita harapkan”. Apakah saya akan mampu menjadi manusia yang bersyukur dengan rezeki  yang telah diberikan oleh Allah. Apakah saya akan selamanya menjadi manusia yang meletakkan dunia di kepala, punggung dan dikedua pundak saya……………???

Mampukah saya menjadikan dunia sebagai sarana saya untuk berdakwah dijalan Allah. Menjadikan dunia kendaraan yang akan menghantarkan saya menuju jalan Allah.

Sementara godaan dan liukkan tubuh dunia masih suka mengoda hati dan ego saya untuk menaklukkan dan mendapatkan keelokkan dan kemolekan liukkan tubuh dunia.

Akankah saya mampu menjadi manusia yang bisa berbagi dan peduli terhadap kesusahan orang lain. Dan menganggap bahwa rezeki mereka ada ditangan saya di titipkan oleh Allah. Atau saya akan menjadi orang yang kikir dan baqil………….???

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Desember 2011 in Catatan Kecil

 

Tag: , , ,

DI ATAS SAJADAH USANG, CINTA PASRAHKAN HIDUPNYA

Cinta tertunduk, duduk di pojok kamarnya. Dia seakan tak percaya apa yang dia dengar. Hatinya dengan gundah gulana masih menanyakan hal yang sama sejak dia meninggalkan ruang praktek dokter.

Apakah harus….?

Memang haruskah….?

“Ya Allah……” bisik Cinta lirih. Selirih hatinya yang pilu. Selirih gema air mata di pipinya.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
“Sore mba…..mari silahkan duduk.” Sapa dokter dengan senyum ramahnya.

“Apa yang mba rasakan….?”

Cinta menceritakan sakit yang dirasakannya. Dan sudah berapa lama dia mengalami sakit tersebut. Tiba-tiba sang dokter memegang pergelangan tangan Cinta untuk memeriksa denyut nadi Cinta. Cinta kelabakan karena tak terpikir olehnya akan bakal dipegang pergelangan tangannya. Sebenarnya itu adalah pemeriksaan awal yang wajar dan selalu dilakukan oleh seorang dokter sebelum melakukan pemeriksaan selanjutnya. Masalahnya ada di cinta. Sudah 6 bulan ini Cinta tidak mau di sentuh oleh seorang laki-laki yang bukan muhrimnya. Dia selalu berusaha menjaga hal itu.

Dalam keadaan masih bingung sang dokter menyuruh Cinta berbaring untuk melakukan pemeriksaan berikutnya. Dokter memeriksa bagian dada, dan rusuk Cinta. Beberapa kali dokter harus mengulang menyuruh Cinta untuk menarik nafas dan mehembuskannya. Cinta bukan tidak mendengar apa yang disuruh dokter tapi dia tak focus dengan perkataan dokter, hatinya masih dirasukin rasa was-was, takut sang dokter memeriksa dadanya dengan menyingkap bajunya karena untuk mendapatkan data yang akurat.
Akhirnya Cinta bernafas lega dan syukur ketika dokter memeriksa tanpa harus menyingkap baju bagian dadanya.

“Sekarang saya, akan memeriksa bagian perut ya mba…?

“Apa….?” Cinta kembali panas dingin. Memeriksa bagian perut….? Berarti Cinta harus menyingkapkan sedikit baju di bagian perutnya.

“Baik dok, tapi…..”

“Kenapa mba…..?”

“Dokter harus memakai sarung tangan dan disaat dokter memeriksa perut saya, dokter harus tutup mata. “

Dokter tersenyum-senyum mendengar permintaan Cinta, yang terasa aneh baginya. namun sang dokter memakluminya. Dan memenuhi permintaan Cinta.
Cinta tak henti-hentinya menatap sang dokter, bukan karena mudanya, tapi takut kalau-kalau sang dokter membuka matanya saat dia memeriksa perutnya, sambil membatin dalam hati “ Kenapa aku terjebak dengan dokter laki-laki, biasanya di sini bila aku berobat dokternya wanita. Apa mba itu tidak lagi praktek di sini …..?”

“Sudah mba…”

Dengan cepat-cepat Cinta menutup perutnya.

“Sekarang saya mau mba menimbang berat badannya….”
Cinta melangkah ketimbangan.

“Sebelum ini berat badan mba berapa….?”

“65 Kg dok…”

“Hmmm, kapan itu mba?”

“3 bulan yang lalu”

“Berarti dalam 3 bulan ini, berat badan mba turun 7 kilo. Apa mba menjalani diet…?”

“Ga dok, seumur hidup saya ga pernah diet.”

“Hhhmmmm…baiklah, kita lakukan pemeriksaan selanjutnya.”

Setelah selesai serangkaian pemeriksaan dijalani oleh Cinta. Tibalah saatnya Cinta harus mendengarkan keterangan dari dokter tentang sakitnya.Cinta berusaha menenangkan dirinya.

“Mba…… mba sebaiknya harus menjalani operasi…”

“Apa dok….? Operasi….?” Cinta seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya

“Iya mba…. Kalau tidak diangkat mba akan mengalami peradangan. Dan itu akan mengganggu kesehatan mba.”

“Apakah tidak ada jalan lain dok?” tanya Cinta dengan lirih, hampir-hampir dia tak mampu memendung air matanya yang mengalir menumpahkan kesedihan hati Cinta.

Dokter mengerti dengan keterkejutan dan ketidaksiapan Cinta.

“Baiklah mba…. Sekarang untuk sementara saya kasih obat saja dulu dan tolong dihabiskan ya mba, kita lihat angsurannya setelah ini.”

“Mba ….. saya lihat kurang istirahat, jadi saya ingin mba banyak-banyak istirahat. Istirahat badan dan pikiran. Semoga cara ini akan membantu kesembuhan mba.”

“Ya dok….” Sahut Cinta lirih sambil berkata dalam hati, “haaa… andaikan engkau tahu dok apa yang aku alami dalam hidupku. Banyak beban batin yang harus aku pikul dan harus aku uraikan satu demi satu dalam jiwa dan hati ini dengan pikiran yang dituntut untuk tetap waras.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
“Ya Allah haruskah aku menjalani operasi ini …..?’ Cinta masih membantin di pojok kamarnya dengan uraian air mata membias kebingungan.

Perlahan Cinta bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya untuk mengambil wuduk. Dia ingin bertemu dengan Terkasihnya, ingin menumpahkan semua yang dia rasakan, dalam Sujudnya yang dalam dan heningnya zikir. Berharap mendapatkan kekuatan dari Terkasihnya untuk dia tegar. Dan melantunkan ayat-ayat suci dari kalam Ilahi mengharap mendapatkan ketenangan dari Terkasihnya.

Dengan penuh kekusyukan Cinta bercakap-cakap dengan terkasihnya dalam doanya yang panjang.

“Ya Allah…..dengan ketiadaan daya hamba-Mu yang lemah dan sangat hina ini. Datang bersimpuh di pintu-Mu. Mengadukan duka hamba kepada Engkau ya Robby. Bukan hamba tidak bersyukur atas apa yang sudah Engkau gariskan pada hidup hamba. Tapi hamba tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi selain Engkau ya Allah…..”

“Ya Allah…..hamba yang yang tak berdaya dan sangat hina ini memohon kepada Engkau, agar sudi kiranya Engkau memberikan sedikit kekuatan-Mu pada hamba dan sedikit Sabar dan Rido-Mu pada hamba, agar hamba bisa berdiri tegak dan ikhlas menerima ujian berikutnya dari-Mu.”

“Ya Allah…..pertemuan hamba dengan ibunda yang hanya beberapa jam pada waktu yang lalu, telah membuat hati hamba terenyuh dan menangis. Disaat hamba lihat betapa beliau susah untuk melangkah, kaki itu seperti hampir diseret kalau berjalan. Disaat beliau memijit pundak hamba, dengan kasih sayang dan kerinduannya, hamba dapat merasakan tiada lagi tenaga ditangan tua yang keriput itu. Pijitan itu hamba rasakan seperti belaian.
Bagaimana mungkin hamba akan mengabari keadaan hamba kepada beliau. Sungguh ya Allah…. hamba tidak sanggup menambah beban derita beliau, karena sampai detik ini hamba belum bisa berbakti kepada beliau. Belum bisa membalas jasa dan budi beliau yang dengan sabar merawat hamba dari kecil dengan kasih sayang dan cintanya yang begitu tulus dan besar kepada hamba.
Ya Allah…. kalau boleh hamba memohon kepada-Mu, berilah kekuatan dan kesabaran pada ibunda dan ampunilah dosa-dosa beliau serta berilah kesembuhan pada hamba. “

“Ya Allah hamba yang tiada daya upaya dan sangat hina ini, memohon kepada Engkau bukan karena ingin menentang ketentuan Engkau. Karena hamba percaya pada ketentuan Qadha’ dan Qadar. Dan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak akan pernah ada dan terjadi tanpa sepengetahuan, izin dan ketentuan-Mu Ya Allah.
Dan tidak pula hamba ingin ingkar atas perjajian hamba dengan Engkau dahulu sebelum Ruh hamba Engkau turunkan ke alam fana ini.”

“Ya Allah hamba yang lemah dan sangat hina ini memohon kepada Engkau, karena Engkaulah kiblat hamba, tempat hamba kembali nantinya.”

“Ampuni semua dosa-dosa hamba ya Allah……. Aminnnnnnnnnnn…”

Cinta masih menangis sesugukkan di atas sejadah usangnya, dengan badan gemetaran. Dia sangat takut kalau Terkasihnya murka dan meninggalkkannya. Dia sangat takut bila tidak bisa menjadi hamba yang selalu bersyukur dan sabar atas ketentuan Terkasihnya. Ketakutannya ini lebih besar dari pada ketakutannya pada meja operasi.

Tapi Cinta yakin dengan cinta dan kasih kasih sayang yang Agung serta pertolongan dari Terkasihnya.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Desember 2011 in Cerpen

 

Tag: , , , ,

KASMARAN TAK BERTUAN

kasamaran tak bertuanCinta duduk di depan rumah sambil mendengarkan lagu Bebi Romeo Lagu tentang Cinta di temani suara jangkrik, terasa syahdu sekali malam ini. Bulan sabit tersenyum penuh damai, dan bintang-bintang menari dengan kerlap kerlipnya di langit hitam. Menggoda hati insan yang kasmaran.

Cinta tersenyum melihat polahnya bintang yang terus mengodanya dengan sinarnya yang terang redup. Entah kenapa hati Cinta merasakan jatuh cinta dan rindu yang teramat sangat. Tapi dia bingung, tidak tahu jatuh cinta pada siapa dan rindu pada siapa. Yang dia tahu bahwa hatinya saat ini dilanda badai asmara yang tak bermuara.

Kepada siapa dia akan labuhkan hati yang tak bertuan ini………..

Tak satupun lelaki yang mampu membuat hatinya tergoda.

Tapi kenapa dia bisa jatuh cinta dan rindu…?

Inikah yang dikatakan Kasmaran Tak Bertuan.

Kepada siapakah dia jatuh cinta …???

Dan untuk siapakah rindu ini …???

Bila hatinya tak mampu untuk menerima kehadiran sosok seorang laki-laki …..

Cinta tak sanggup lagi bila suatu saat hatinya akan hancur lagi ….

Tertipu oleh kepalsuan cinta …..

Terpedaya oleh kasih sayang tak tak pernah tulus padanya ….

“Biarlah ….. Kasmaran tak bertuan ini aku nikmati di dalam hati,” batin Cinta merintih sayu, sambil memperhatikan asap cigar yang meliuk-liuk di udara malam. Membentuk lingkaran kehidupan Cinta yang penuh onak dan gelombang.

Jangkrik menenangkan hati Cinta dengan melodi syahdu tentang cinta.

Rembulan tersenyum pada Cinta, mengantarkan nyanyian lagu tentang cinta.

Bintang menari dengan lincahnya, menghibur Cinta dengan iringan melodi tentang  cinta…

Cinta tersenyum………. Senyum kasmarannya yang tak bertuan. Untuk Sang Dewi malam dengan seluit cintanya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Desember 2011 in Cerpen

 

Tag: , ,

KEHILANGAN YANG MENYAKITKAN

Setiap insan di dunia akan merasakan sekali dalam hidupnya kehilangan yang sangat menyakitkan. Terkadang kita merasa tak mampu untuk menghadapainya atau menjalani rasa kehilangan yang terdalam.

Percayalah bahwa kita akan merasakan sakit kehilangan. Ada yang di datangkan cepat oleh Allah, ada yang di datangkan lambat oleh Allah. Hanya menunggu waktu saja.

Bagi yang sakit kehilangan di datangkan cepat bersyukurlah karena Allah sangat sayang pada kita. Dia tak ingin melihat kita terlalu jauh melangkah dalam salah. Dia ingin cepat mendekap kita dalam Kasih sayang dan Cintanya.
Bagi yang belum didatangkan sakit kehilangan, waspadalah….janganlah terlena karena Allah masih menguji kita untuk itu persiapkanlah diri dalam keimanan dan takwa kepada-Nya.

Kita harus menyadari bahwa apa yang kita miliki itu bukan milik kita. Tapi titipan dari Allah. yang sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh Allah dari hidup dan genggaman tangan kita. Bahkan nyawa kitapun bukan milik kita. Hanya sikap ikhlas dan ridolah yang mampu membuat kita kuat dalam kehilangan.

Semua itu hanyalah sebatas cobaan dari Sang Kuasa, yang menguasai semua alam dan makhluknya. Juga yang menguasai hati dan membolak balikkannya. Itulah bukti sayangnya Allah pada makhluk-Nya.

Jangan pernah menyalahkan takdir, tapi bersyukurlah karena itulah cara Allah menyayangi kita. Dia merangkul kita dengan kasih sayang-Nya. Agar kita kembali kepada-Nya. Dan menyadari bahwa hanya Dia yang kita butuhkan, tempat kita menyandarkan hidup dan jiwa kita. Dan menyadari akan perjanjian kita dengan Dia, sewaktu ruh kita akan ditiupkan ke dalam rahim seorang wanita yang bernama Bunda/ibu. Hanya Dia tujuan kita dan kiblat kita dalam perjalanan pulang ke kampong azali kita.

Hanya Allah teman sejati kita dalam mengarungi lautan kehidupan. Dia tidak pernah membenci dan dendam, meskipun kesalahan kita seluas bumi dan langit. Kasih sayang-Nya Yang Maha Luas, akan selalu menemani kita dalam badai dan gelombang derita kehidupan. Dia juga tidak pernah tergesa-gesa dalam mengambil suatu keputusan untuk hidup kita. Dan Dia tidak pernah memberikan beban cobaan pada kita melebihi kemampuan dan tingkat keimanan kita.

Satu-satunya cara untuk menghadapi sakitnya kehilangan adalah mensyukurinya dan bermuhasabah diri.

Janganlah pernah dendam atas sakit kehilangan yang kita alami. Dan jangan putus asa. bersimpuhlah dihadapan Sang kholiq memohon diberi keikhlasan, kesabaran dan kekkuatan untuk menjalani ujian-Nya.

IKHLASI DAN RIDOLAH ATAS APA YANG ALLAH TELAH TAKDIRKAN PADA DIRI KITA. KATAKLAN PADA DIRI KITA BAHWA ALLAH SANGAT SAYANG PADA KITA.

SALAM CINTA DAN SAYANG BUAT SAUDARAKU YANG SEDANG DI UJI OLEH ALLAH. AKU TAHU RASA SAKIT KEHILANGAN ITU. TAPI CINTA ALLAH LAH YANG MEMBUAT KITA KUAT. DAN KASIH SAYANG DARI SAHABAT-SAHABAT YANG SELALU MEMBERI DORONGAN PADA KITA.

NB: terima kasih buat sahabat baikku:
• Mawar Hitam, yang telah mengingatkan ku akan kasih sayang Allah. Dan telah memberikan aku pilar-pilar yang kokoh untuk tegak. Memberikan semangat untuk ku kembali kuat. Nasehat-nasehatmu sangat berarti bagiku, Insya Allah akan selalu aku ingat. Terima kasih untuk cinta dan sayangmu. Dalam sakitpun engkau tetap membantuku.
• Mutia Farida, yang selalu menemani ku dalam duka, yang ga pernah bosan mendengarkan keluhanku, meski engkau telah hafal apa yang akan aku utarakan. Tapi engkau tetap setia mendengarkannya tanpa ada sikap bosanmu. Engkau yang selalu ingat akan kesehatanku, engkau yang selalu ngomel kalau aku lalai dalam menjaga kesehatanku dan makan ku. Engkau mengenalku melebihi engkau mengenal dirimu. Engkau tahu dengan baik bagaimana keadaanku.Engkau yang selalu ada disetiap aku butuhkan.Terima kasih karena engkau telah mengorbankan materi dan moril untuk ku

TERIMA KASIH ATAS DOA KALIAN PADA KU, AGAR AKU BISA BERDIRI TEGAK DAN KUAT DALAM MENGARUNGI KEHIDUPANKU.
KALIANLAH SAHABAT-SAHABAT TERBAIKKU. KALIAN YANG LEBIH DULU MENANGIS DAN MERASAKAN SAKITKU. AKU TAK AKAN BISA MELUPAKAN KEBAIKAN DAN JASA KALIAN… INSYA ALLAH SELAMA HIDUPKU.
KARENA KALIAN YANG SELALU ADA DAN DEKAT DENGANKU DISAAT AKU SAKIT.

Sekarang aku sadar bahwa cinta dan kasih sayang kalianlah yang aku butuhkan. Cinta dan kasih sayang kalian benar-benar nyata dan tulus padaku.  Kalian berdua tidak pernah  banyak berteori tapi banyak melakukan tindakan untuk kebaikan ku.

SEMOGA SUATU SAAT AKU BISA MEMBALAS KEBAIKAN KALIAN BERDUA. DOAKU SEMOGA ALLAH SELALU MERAHMATI DAN MENJAGA KALIAN BERDUA.
AMIN……..

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Desember 2011 in Catatan Kecil

 

Tag: , , ,

RINTIHAN HARAPAN SANG PIPIT

terluka dan deritaTerasa begitu pedih disaat sang pipit menemukan kenyataan bahwa dia ditakdirkan kembali sendiri dalam mengarungi gelombang dan hantaman tajam hidup.

Disaat induk burung Dara bercanda dengan anak, dan Kesturi memadu kasih di semak-semak rumput ilalang, Sang Pipit kecil hanya diam terpaku di dalam sangkarnya. Mendengarkan celoteh mereka di atas dahan  dan di sarang  mereka dengan hati yang sangat miris. Sementara pipit yang lemah  di hadang oleh dilema di dalam hidupnya. Sang Pipit  mencoba  larikan duka hatinya dengan membuka hati pada sang waktu.Pipit berpikir  akan menemukan kebahagian di sana, ternyata sang Pipit salah, yang ditemukan hanyalah ketidak tulusan sebuah cinta dan sayang. Kembali hati sang Pipit tambah terkoyak. Disaat Pipit lemah benar-benar putus asa tak berdaya, datanglah sang Elang menguluran sayapnya, mengajak pipit untuk terbang melintasi angkasa melihat keindahan daratan. Dia tawarkan padanya akan arti kasih sayang yang tulus dalam artian yang sebenarnya.

Sang pipit  sangat bahagia, dalam hati dia berkata ternyata aku masih punya harapan untuk bahagia dalam hidup.Berbagai harapan Sang Elang  janjikan pada pipit yang lemah. Dia tunjukkan pada pipit bagaimana menatap hidup ini. Dia berikan apa yang telah hilang dalam hidup pipit kecil yang lemah.

Dia janjikan sebuah kehidupan bersama untuk mengarungi gunung dan angkasa biru  dengan sikap dan perilakunya pada sang Pipit. Sehingga Pipit  mempunyai semangat untuk menatap hari esoknya. Dia angkat Sang pipit dari ketepurukkannya di lembah yang tak bertuan. Dia jaga dan lindungi si Pipit lemah tak berdaya.  Pipit  benar-benar merasakan burung  yang sangat beruntung di dalam hidupnya. Setelah sekian tahun sang Pipit terjebak dalam pencariaannya.

Semua harapan untuk bisa hidup bahagia di hari tua disandarkan oleh pipit lemah kepada Sang Elang. Dengan harapan yang penuh Pipit langkahkan kaki meniti lembaran baru kehidupan ini….

TAPI……………………………………………

Semua harapan Pipit itu hanya sebatas mimpi.

Kini Pipit terjebak kembali dalam kepedihan hidup yang sangat dalam. Melebihi kepedihan Pipit yang terdahulu. Hanya berselang beberapa waktu sang Elang mengucapkan akan memberikan harapan untuk tetap mendampingi pipit lemah. Dengan tiba-tiba Sang Elang  renggut semua harapan yang telah dia semaikan di dalam hati Pipit. Pipit hanya bisa diam temanggu di atas ranting yang rapuh. Untuk menanggis Pipit  sudah tidak mampu lagi karena teramat sakit yang dia rasa. Dengan kekuasan dan keperkasaan yang dimiliki oleh Elang, dia hancurkan harapan Sang Pipit yang lemah . Berbagai alasan dia ucapkan untuk merenggut harapan dan kebahagian Si Pipit kecil. Alasan yang membuat si Pipit tidak mampu untuk membantahnya. Akhirnya Pipit pasrah dengan semua itu. Dia coba balut pedihnya dengan diam. Dihati Pipit berkata ternyata kebahagian itu bukan milikku. Pipit kini sadar kalau dia hanyalah burung kecil yang tiada arti, yang selalu dibenci oleh para petani, karena memetik padi yang mulai menguning di sawah.

Apalagi di saat sang Elang  bercerita tentang Nuri yang Elok rupa dan anggun. Semakin terpojoklah Pipit. Semakin benar-benar tertututp rapat harapan itu. Pipit melihat tidak ada sedikipun celah lagi untuk dia bisa bersama sang Elang. Celah-celah itu sudah ditutup sangat rapat sekali oleh Sang Elang. Malam itu Pipit  menangis tersedu-sedu. Luka itu bukan bertambah lebar lagi tapi hati ini sudah benar-benar hancur. Mulut ini hanya bisa mengucapkan lirih kenapa kamu begitu kejam sama ku Elang. Tidak tahukah kamu betapa rindunya hati ini pada mu. Betapa sepi dan sunyi hidupku kini. tidak tahukah kamu betapa gamangnya aku kehilangan semua ini dengan sangat tiba-tiba. Kumerindukan dekapanmu, ku merindukan belaianmu, ku merindukan pelukakanmu. Ingin ku menangis dalam pelukanmu. Menumpahkah semua pedih dan perih yang menyesak di dalam dada ini. Tapi itu aku paksa kubur Elang. Tidak sekalipun ku ucapkan padamu.

Dalam kebingungan Pipit coba untuk tegar. Tapi perkataan Sang Elang selalu menggema di antara apitan terjalnya jurung. “Dukungannya yg kunanti agar aku bisa kembali,tapi yg kudapat malah sakit hati. Kalau sampai kali ini dia masih seperti itu,berarti dia yang dulu menyemangatiku memang benar-benar telah hilang”.     Pipit  bingung kenapa sang Elang menuntut dia untuk menyemangati dia. Bukankah Sang Elang tahu kalau dia adalah Pipit kecil yang lemah yang membutuhkan  dukungan dan semangat dari Sang Elang. Agar dia benar-benar bisa kembali terbang dan berkicau ceria seperti dulu. Bukankah aku sudah mengatakan bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Aku … Si Pipit kecil yang tak berdaya terperangkap dalam sunyi dan sepi. Terpenjara oleh sangkar kepedihan, kesedihan, luka dan keterpurukan dalam hidup. Bukankah Sang Elang tahu kalau sayapku sudah patah sebelah.

Disaat Sang Elang  ungkapkan alasan untuk merenggut kebahagian Pipit. Pipit hanya mampu mengucapkan kata “Maafkan Pipit Elang  yang sudah menjerumuskan mu dalam kesusahan, kembalilah kekehidupanmu”…………..

“Jangan pikirkan cinta diantara kita. Pergilah terbang melalang buana, menjelajahi daratan demi daratan. Biar saja yangg pernah terjadi pada kita menjadi album kenangan.”

Sang Elang tidak tahu betapa sedih dan perih hati Sang Pipit, disaat harus menuliskan kata-kata itu. Mungkin Sang Elang berpikir betapa gampangnya Pipit mengucapkan itu. Padahal Pipit menuliskan itu dalam keadaan menangis dan sangat terpuruk, merasa hina dan rendah diri. Pipit menutupi kelemahannya, dia coba munculkan ketegarannya di hadapan sang Elang. Dengan maksud supaya Elang tetap merasa bebas dan lega terlepas dari sang Pipit. Dan meraih semua keinginanya. Sang Pipit  kubur harapan dan kebahagiannya. Dia biarkan hati ini terluka. Kerena dia tahu, bahwa  dia bukanlah burung Nuri yang elok rupa. Dia hanyalah seekor Pipit kecil yang memiliki sayap kecil yang kusam dan patah. Pipit sadar dia tak pantas menemani sang Elang yang memiliki sayap lebar dan indah untuk melalang buana menjelajahi belahan demi belahan benua kehidupan. Aku bukan burung yang elok rupa dan aku harus mundur biar tidak menjadi penghalang dia dalam mencapai tujuannya. Biarlah dia berbahagia bersama burung Nuri yang cantik dan anggun. Aku hanyalah sebatas banyangan dan kini sudah waktunya bayangan itu hilang, walaupun betapa besarnya hasrat hati sang Pipit ingin hidup berdampingan dengan sang Elang dalam mengarungi bukit-bukit dan lembah-lembah kehidupan, namun bayangan tetaplah bayangan yang akan sirna bersama hilangnya sinar.

Pipit tidak marah pada sang Elang . Sekian lama dalam hidup Pipit baru  kali ini dia tidak mampu membagi sayangnya pada pejantan lain selain diri sang Elang. Pipit bahagia bisa memberikan kasih sayangnya pada sang Elang. Meskipun kini itu sudah tidak berarti lagi bagi Sang Elang. Pipit ikhlas, sang Elang mengambil kembali kebahagian yang pernah dia semaikan dulu. Semoga sang Elang berbahagia selalu bersama Nurinya yang elok rupa. Dan semoga Allah selalu melindungi kalian berdua.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 14 Desember 2011 in Cerpen

 

Tag: , , , , ,

CINTA SI BURUK RUPA

Cinta terus berlari dan berlari. Tak dihiraukannya duri-duri dari semak penghinaan menggores kulitnya, mengalirkan darah segar di setiap lukanya. Meninggalkan bekas kegetiran  sebuah kenyataan.

Betapa pahitnya kenyataan yang harus dia terima. Kenyataan bahwa dia tetaplah si buruk rupa di mata lelakinya. Tak pernah terpikir oleh cinta bahwa kasih sayang lelakinya hanyalah untuk mempermalukan dirinya. Kebahagian sesaat yang didapat Cinta ternyata hanyalah semu belaka. Kini Cinta harus menelan pil pahit sebuah pukulan, yang terasa sangat menghantam sisi batinnya. Menghancurkan kepercayaan diri dan menghadirkan rasa rendah diri pada kaum hawa dan mati rasa pada kaum adam.

Baju indah bersulamkan sayang dan cinta yang diberikan oleh lelakinya, membuat Cinta terlena mengira dirinya akan bisa menjadi seorang putri. Dan menaruhkan harapan akan sebuah kehidupan yang bahagia, yang mampu menghapus lukanya dan siburuk rupanya.

Saat Cinta menari denga baju yang baru, bersulamkan cinta dan kasih sayang. Lelakinya mentertawakannya, dan merenggut baju indah itu dari tubuhnya, sambil melemparkan baju lamanya ke wajah Cinta.

“Wahai Cinta, betapa indahnya baju itu, tapi sayang baju itu tidak cocok untukmu, karena kamu tetaplah si buruk rupa. Baju yang pantas kamu pakai adalah yang compang camping yang lusuh dan kusam ini. Sedangkan baju itu hanyalah cocok untuk seorang wanita yang telah lebih dulu menemani hidupku, dia wanita agung dan suci, dia adalah seorang putri. Jangan pernah kamu bermimpi akan bisa menjadi seorang putri untuk ku, selamanya kamu akan tetap siburuk rupa meskipun pakai mu berhiasakan zamrud dan berlian.”

Bagai disambar petir, Cinta terhempas di atas lantai keterpurukan. Dia tak mengira sama sekali lelakinya tega memperlakukannya begitu kejam. Dengan kehancuran hati Cinta berlari dengan terseok-seok, menghilang dari setiap pandangan mata.

“Ternyata aku tetaplah siburuk rupa, betapa naifnya aku selama ini, mengira lelakiku akan menjadikan ku seorang putri.” Batin Cinta menangis, ingin mengingkari apa yang terjadi. Namun tak kuasa merontak.

Kini lelakinya telah membunuh kehidupannya. Cinta kembali menarik dirinya kebelakang. Kembali ke dimensinya yang sesunyi, sepi dan luka. Sendiri dalam ruang tangisan hampa yang kusam dan kumuh.

Cinta si buruk rupa tak mau lagi, mencoba untuk memakai baju indah yang lain. Cukup bagi Cinta ini yang pertama dan terakhir dalam perjalanan cintanya Cinta.

Cinta adalah si buruk rupa dan selamanya tetap menjadi si buruk rupa. Tak ada lagi harapannya untuk menjadi seorang putri. Biarlah Cinta bersemayam dalam dukanya dan tuduhan. Sendiri menjalani hari esok, yang suram dan kelam. Hidup dalam kepedihan dan hempasan keterpurukan yang tertoreh di setiap butir-butir darahnya.

Cinta tak dendam pada lelakinya, cintanya tetap disimpan dihatinya untuk lelakinya. Biarlah kenangan bersama lelakinya yang akan menemani cinta dalam meniti hidupnya yang tak memiliki arah lagi.

Cinta memeluk erat bayangan lelakinya dalam sanubarinya yang dalam, dalam mimpinya yang buram dalam dekapannya yang lemah tak berdaya.

Dengan tubuh menggigil kedingin, Cinta terduduk lunglai di depan pintu dimensinya yang kelam. Berusaha membukanya kembali dengan tangan yang gemetaran menahankan rasa pilu. Dengan kaki yang mengucurkan darah. Cinta kembali ke dunianya yang dulu. Dunianya yang sepi dan sunyi. Membunuh semua keinginan jiwa.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Desember 2011 in gw

 

Tag: , , ,

KEHANCURAN JIWA

Kenyataan yang di terima telah membuat,
Luka tak terkatakan
Sakit tak terkirakan….
Tertekan tak tertahankan….
Rendah diri yang tersingkap terang ….
Telah mencabik, memporak porandakan,
dan menghancurkan kepercayaan diri
yang di tegakkan dengan kekuatan diri yang rapuh dan lemah.
Pupus semua harapan yang dicoba semaikan dalam atmosfir kehidupan

Pernyataan itu telah,
Menarik langkah kaki kembali ke belakang.
Menyadarkan siapa diri,
Sebuah kertas yang penuh coretan tinta hitam dan merah
Menyembunyikan diri dalam samudera sunyi, sepi dan duka.
Berdiam dalam gelombang kehancuran,
Terhempas pada terjalnya karang kepahitan anggapan.

Kini Biarkanlah
Bersila diatas batu nisan
Memejamkan mata, mematikan rasa
Menghilang dari dunia alam kebahagian
Memendam keinginan dalam kuburan kenangan
Menegak pahitnya tudingan yang tak berwujud nyata
Selamanya alam ini akan tetap gelap dalam bayangan
Dalam buaian siksaan rasa dan tuduhan
Sendiri dalam kematian yang hidup
Terjalin dalam kepahitan
Kosong hampa

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Desember 2011 in Isi Hati

 

Tag: , , , , , , ,